fbpx

Selama 2019, Bitcoin Naik Turun?

By 4 Desember 2019Edukasi
bitcoin naik turun

Selama tahun 2019 kita telah melihat beberapa episode naik turunnya crypto. Pada separuh pertama 2019 misalnya Bitcoin sempat melonjak naik hingga kemudian turun lebih dari 40% setelahnya. Yang berbeda di tahun ini adalah Bitcoin mendapat sorotan yang cukup besar dari para regulator maupun institusi keuangan.

Baca juga: Riset: Pekerjaan di Industri Crypto dan Blockchain Meningkat Hingga 26%

Lalu apakah citra dari Bitcoin ternoda? Memang beberapa kasus selain perubahan harga besar-besaran, Bitcoin dan cryptocurrency lainnya telah dihubungkan dengan penipuan, pencucian uang, penggelapan pajak, pencurian cyber, spekulasi berlebihan dan banyak lagi. Risiko seperti ini mungkin lebih mudah bagi pengawas untuk mengabaikan ketika Bitcoin dan rekan-rekannya duduk di pinggiran keuangan, tetapi mereka bergerak semakin dekat dengan arus utama, terutama dalam bentuk baru crypto. Yang paling menonjol adalah stablecoin, mata uang digital yang nilainya dipatok ke beberapa penyimpan nilai lainnya dengan volatilitas terbatas. Yang terbesar adalah Tether, yang pembuatnya mengatakan Tether dirancang untuk melacak dolar AS. Skala potensial Libra, crypto buatan Facebook juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan regulator bahwa cryptocurrency dapat mengambil alih kekuasaan dari pemerintah dan bank sentral.

Baca juga: Banyak Casino Mulai Beralih Pakai Cryptocurrency

Volume Tether per akhir Oktober tahun ini juga melonjak hingga $35 miliar, sedangkan Bitcoin masih bertengger di kisaran $27 miliar seperti yang dilansir CoinMarketCap. Volume Tether melampaui Bitcoin untuk pertama kalinya pada April lalu dan secara konsisten terus merangkak naik.

Baca juga: Menguasai Emosi dan Mengelola Risiko Dalam Perdagangan Crypto

Selama satu tahun ke belakang, Bitcoin memang mengalami naik turun yang dramatis. Diantaranya, Presiden Cina mengumumkan dukungan untuk teknologi blockchain yang mendasari cryptocurrency, tetapi pemerintahnya pada saat yang sama menindak bisnis kripto. Pengumuman peluncuran Libra, serta yang tak kalah penting adalah volatilitas harga turut mewarnai pasang surut crypto selama satu tahun ke belakang. Selain Cina yang menolak crypto, ada juga regulator yang masih mempertimbangkan kehadiran aset ini, AS misalnya. Negeri yang dipimpin oleh Trump tersebut diketahui saat ini sedang dalam proses merumuskan strategi pengaturan yang komprehensif.

Baca juga: Cryptocurrency Selamatkan Pembangkit Listrik Berusia 110 Tahun

Namun, popularitas Bitcoin masih tetap memuncak terlebih sejak kenaikannya di tahun 2017, dimana ia mampu menarik banyak investor besar kala itu. Sebagian dari mereka mungkin telah meninggalkan Bitcoin, namun masih ada kelompok penggemar inti yang kuat yang tersisa.

Bagaimana kira-kira di tahun mendatang? Akankah harga Bitcoin merangkak naik lagi?

Baca juga: Bitocto di Binus Alam Sutra