Malta, Pulau Blockchain di Selatan Eropa

By 16 April 2019Edukasi
negara blockchain

Malta, biasa orang sebut sebagai negara blockchain, merupakan sebuah negara kepulauan di selatan Eropa. Letaknya sekitar 80 km di selatan Italia, 284 km di timur Tunisia dan 333 km di utara Libya. Malta, yang hanya mempunyai luas daerah sebesar 316 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 450.000, membuatnya menjadi salah satu negara terkecil di dunia dengan penduduk yang paling padat.

Ada salah satu kelebihan Malta yang kini membuatnya mendapat perhatian dari dunia. Ia disebut-sebut menjadi pusat Blockchain dunia. Terdapat banyak faktor mengapa Malta dianggap sebagai negara yang paling aman dan menguntungkan untuk dijadikan pusat Blockchain dan transaksi maupun trading Cryptocurrency.

Baca juga: Cara Blockchain Mengubah Dunia

Diantaranya karena regulasi setempat yang sangat bersahabat dengan investor kripto dan perkembangan Blockchain yang sangat pesat. Malta menjadi pelopor dalam membuat regulasi Cryptocurrency. Negara ini menetapkan kerangka peraturan untuk Cryptocurrency, Blockchain, dan Distributed Ledger Technology (DLT) secara umum. Tahun 2018 juga merupakan tahun pertama bagi negara ini mengadakan KTT Blockchain yang telah lama ditunggu-tunggu para peminat crypto.

Baca juga: Pelayanan Publik ala Blockchain

Malta tidak hanya membuat tiga undang-undang mengenai Cryptocurrency, tetapi juga memiliki seluruh Strategi Blockchain Nasional yang ditulis oleh Tendon dengan enam pilar yang menunjukkan pemahaman mendalam mengenai teknologi tersebut, termasuk inisiatif seperti memindahkan pencatatan publik ke Blockchain, E-residensi dan identitas digital, serta tata kelola yang cerdas.

Hal ini, tak serta merta membuat Malta gampang menerima perusahaan-perusahaan Crypto, persyaratan Know Your Customer (KYC) terbilang cukup sulit di negara ini, namun setidaknya hal ini memberikan jaminan kestabilan operasional bagi para pengusaha.

Baca juga: 4 Alasan Mengapa Bisnis Kecil Harus Investasi Teknologi Blockchain

Perdana Menteri Muscat menyebutkan bahwa pemerintah setempat tetap bersemangat untuk terus mengeksplor potensi Blockchain dan kemampuannya untuk menghilangkan penyedia layanan pihak ketiga.  Menurutnya, Blockchain pada akhirnya akan menghasilkan solusi yang dapat menggantikan infrastruktur yang ada di industri besar seperti sektor kesehatan.

Baca juga: