Cryptocurrency, Solusi di Tengah Krisis Ekonomi?

By 20 February 2019Berita

Di tengah kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu, Venezuela menjadi salah satu contoh konkrit negara yang telah terlebih dulu sigap mempertimbangkan untuk menggunakan cryptocurrency sebagai back up keuangan negaranya.

Dilansir dari Deustche Welle, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada awal Januari lalu telah memerintahkan untuk merilis mata uang digital baru di tengah kondisi mata uang negaranya yang melemah sebagai dampak dari inflasi besar-besaran. Mata uang digital yang dikenal dengan sebutan ‘petro’ yang kemudian disusul dengan ‘sovereign bolivar’ ini diklaim menjadi yang pertama di dunia yang digunakan untuk mendukung aset fisik negara penghasil minyak tersebut.

Bitcoin meluncur ke dunia maya tepat pada awal Januari 2009 atau di penghujung krisis ekonomi global yang telah berlangsung sepanjang 2007 hingga 2008. Mengutip Tirto, secara spesifik krisis ekonomi global juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan perdagangan, menyebabkan turunnya harga berbagai komoditas, hingga pelemahan dolar terhadap mata uang lain. Pelemahan dolar ini salah satu penyebabnya adalah hilangnya kepercayaan publik atas dolar, atau atas sistem keuangan konvensional secara keseluruhan.

Di tengah kondisi krisis tersebut, masyarakat menghendaki adanya mata uang lain sebagai alternatif. Kemunculan Bitcoin, Ethereum, dan berbagai jenis cryptocurrency lainnya perlahan terus mengalami pertumbuhan dari segi harga, hingga kapitalisasi pasar. Tentu publik juga mewanti-wanti seberapa banyak manfaat yang didapat dari cryptocurrency tersebut sehingga mampu keluar dari kondisi krisis.

Selain Venezuela, Yunani juga pernah mengalami kondisi serupa, Yunani bergabung dengan Uni Eropa dan mengganti mata uangnya dengan euro pada tahun 2001. Ketika krisis keuangan melanda pada tahun 2008, kala itu semua negara di Eropa mengalami resesi, namun karena Yunani merupakan salah satu negara yang paling miskin dengan hutang bertumpuk, negara tersebutlah yang paling menderita dan merasakan dampaknya.

Krisis keuangan yang terjadi di Yunani dan Venezuela akhirnya ‘memaksa’ warganya berduyun-duyun menggunakan cryptocurrency.

Pada tahun 2008, krisis keuangan perlahan mulai memberi dampak pada bank-bank sentral, pembekuan kredit dan kondisi ekonomi meluncur bebas. Kondisi krisis seperti ini tidak dapat diprediksi sebelumnya sehingga memungkinkan terjadinya kekacauan di berbagai sektor. Jika melihat lebih jauh, kehadiran cryptocurrency justru bisa menjadi ‘angin segar’ bagi kondisi perekonomian, mata uang kripto ini didesain dengan sistem keamanan terenkripsi berlapis, tidak dikontrol oleh otoritas terpusat, serta lebih gampang diperoleh dibandingkan dengan mata uang lainnya.

Bukti menunjukkan bahwa orang semakin mencari cryptocurrency sebagai alternatif selama masa krisis. Ketika krisis Yunani berlangsung, volume pertukaran bitcoin dilaporkan paling besar di seluruh dunia berasal dari pelanggan di Yunani.

Harga bitcoin secara historis sangat fluktuatif, meskipun kekhawatiran regulasi pada tahun 2018 telah menekan volatilitasnya. Mereka yang menginvestasikan uangnya pada cryptocurrency dapat mengatasi secara personal permasalahan ekonomi ketika melanda negaranya.