Cryptocurrency Bukan Hanya Sekadar Pelindung Terhadap Inflasi

By 2 September 2020Edukasi

Logam mulia dulunya merupakan solusi terbaik untuk melindungi portfolio investasi Anda dari penurunan nilai alami, namun Bitcoin merubah segalanya.

Selama masa krisis ekonomi internasional, pemerintahan mencetak uang. Ini berujung pada inflasi dan para investor kemudian menyimpan modal investasinya dalam investasi jangka panjang yang stabil. Secara historis, ini artinya emas, namun pada krisis ekonomi saat ini, emas telah didampingi oleh penyimpan nilai jangka panjang lainnya: Bitcoin (BTC).

Ada beberapa alasan bagus untuk ini. Federal Reserve Amerika Serikat menangani krisis dengan sangat buruk, dan telah menanggapi lonjakan angka pengangguran dengan cara yang sama seperti yang biasa mereka lakukan: mencetak uang. Dolar telah kehilangan 5% nilainya, dengan prediksi bahwa ini baru permulaan. Mata uang dolar diperkirakan akan kehilangan hingga 20% nilainya dalam beberapa tahun kedepan, menurut analis di Goldman.

Bersamaan dengan devaluasi ini, muncul ancaman lain bagi para investor: deflasi. Dengan terus menurunnya nilai aset dolar dan yang terburuk belum datang, para investor mencari Bitcoin sebagai pelindung akan deflasi. Nampaknya ini menjadi alasan utama mengapa Bitcoin mampu mempertahankan nilainya meskipun ada berita buruk di bagian lain ekonomi.

Apakah para investor mengambil keputusan yang tepat? Mampukah cryptocurrency bertindak sebagai pelindung dari inflasi terhadap dolar? Mari kita telusuri.

Inflasi dan Deflasi

Pada dasarnya (seperti yang Anda ketahui dari ekonomi dasar), inflasi merupakan hasil dari penurunan secara keseluruhan terhadap pembelian mata uang fiat. Banyak hal yang bisa menyebabkan penurunan ini: investor asing menyebarkan mata uang tertentu, atau bahkan investor menyerang suatu jenis mata uang. Kebanyakan, inflasi merupakan hasil dari peningkatan suplai mata uang, contohnya seperti saat Fed secara sepihak menciptakan miliaran dolar dan mengirim jutaan dolar cek ke warga Amerika.

Deflasi merupakan kebalikannya. Dalam skenario deflasi, harga turun karena nilai mata uang meningkat terhadap barang dan jasa berbeda. Sekali lagi, ada berbagai alasan mengapa ini bisa terjadi, namun umumnya dikarenakan pengetatan kebijakan fiskal, atau inovasi teknologi.

Pandemi Global dan Inflasi

Poin utama dari definisi diatas adalah bahwa inflasi hanya bisa terjadi pada mata uang fiat — yaitu mata uang yang tidak didasarkan pada nilai pasar suatu aset berwujud, namun sebagian besar didasarkan pada kepercayaan dalam menumbuhkan produk domestik bruto. Sejak perjanjian Bretton Woods 1944, ini telah menjadi dasar nilai dolar AS.

Dengan mata uang fiat, pemerintah memiliki tingkat kebebasan yang kuat dalam hal pencetakan uang, dan seharusnya juga dalam pengendalian inflasi. Namun, ketika kepercayaan terhadap pemerintah menurun (seperti saat ini), program pengeluaran pemerintah bisa berujung pada inflasi dan dengan cepat menjadi tak terkendali. Pada 1970, emas meledak karena para investor melihatnya sebagai nilai lindung terhadap inflasi dolar yang cepat.

Sama seperti yang terjadi saat ini. Pandemi global COVID-19 telah menimbulkan kebijakan moneter yang sangat inflasi dan peluasan pasokan uang yang agresif, sementara harga-harga di beberapa area utama seperti bahan makanan terus meningkat karena guncangan pasokan akibat lockdown.

Di saat-saat ini seperti ini, tidak heran jika emas naik lagi. Karena pada akhirnya supply emas di dunia ini terbatas, sehingga harganya tidak mudah dipengaruhi peraturan pemerintah. Beberapa cryptocurrency juga mengalami kenaikan — nampaknya karena alasan yang sama. Sehingga para investor milarder berbaris untuk membandingkan Bitcoin dengan emas.

Bitcoin merupakan aset deflasi?

Alasan mengapa beberapa jenis cryptocurrency bisa bertindak sebagai pelindung terhadap inflasi adalah karena alasan yang sama seperti halnya emas: supply terbatas. Ini adalah hal yang sering dilupakan oleh banyak orang, bahkan yang pelaku crypto sendiri, namun perlu diingat bahwa banyak cryptocurrency — dan terutama, Bitcoin — yang dibangun dengan batasan yang melekat.

Limit 21 juta Bitcoin berarti pada titik tertentu, harusnya ada lebih sedikit Bitcoin melawan permintaan akan aset ini, yang berarti secara nilai, harga per koin akan meningkat sementara supply berkurang.

Selain itu, fakta bahwa Bitcoin mengizinkan para investornya untuk membatasi eksposur mereka ke jaringan pengawasan pemerintah, berarti bahwa di saat kepercayaan rendah terhadap pemerintah, banyak orang akan memindahkan investasi mereka dari dolar AS ke crypto untuk menghindari inflasi dan keputusan aneh pemerintah. Dalam kata lain, perbandingan terhadap investasi emas pada krisis sebelumnya cukup tepat.

Secara keseluruhan bisa dikatakan, tidak benar-benar jelas apakah Bitcoin, pada faktanya, merupakan aset deflasi. Atau paling tidak, belum jadi aset deflasi. Meskipun secara teknis benar bahwa supply cryptocurrency ini terbatas, kita belum mendekati batasan itu, dengan estimasi Bitcoin terakhir akan tertambang pada tahun 2140.

Fleksibiltas dan Stabilitas

Mungkin ini bukan merupakan inti dari semuanya. Salah satu pendorong utama dibalik bersinarnya Bitcoin adalah kombinasi dari stabilitas dan fleksibilitas yang ditawarkan. Dalam konteks ini, sangat menggembirakan bahwa saat ini para investor tidak hanya melihat crypto sebagai pelindung nilai stabil terhadap inflasi dolar AS, namun jika meraka hanya melihat crypto sebagai pengganti emas, maka mereka akan kehilangan intinya yaitu: cryptocurrency lebih dari sekadar pelindung nilai terhadap inflasi.

Lindungi aset Anda mulai sekarang, dengan investasi di cryptocurrency. Tunggu apalagi? Daftarkan akun Bitocto Anda sekarang juga! Kami akan bantu edukasi Anda dari awal GRATIS 1-on-1 online atau LIVE. Hubungi Customer Support kami di WhatsApp 0877-9888-6840 atau Telegram http://t.me/bitocto

 

Reference: Jeff Baerwalde on Cointelegraph.com

Disclaimer : Metode, angka, teknik, atau indikator yang disajikan pada berita ini berasal dari sumber yang tertera, tidak boleh diasumsikan akan menguntungkan dan tidak akan menimbulkan kerugian. Berita ini disampaikan dengan tujuan sebagai bahan edukasi dan informasi, dan bukan merupakan saran investasi. Penulis, penerbit, dan semua afiliasi tidak bertanggung jawab atas hasil transaksi anda.