apa itu ROI

Return On Investment (ROI): Pengertian dan Cara Menghitungnya

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Investasi tentunya tak jauh dengan yang namanya sistem untung rugi. Ada waktunya modal yang Anda tanam di sebuah perusahaan akan menurun nilainya. Lain daripada hal itu, ada juga potensi diperolehnya laba. ROI adalah salah satu istilah yang seringkali dipakai untuk menyatakan kondisi tersebut.

Namun, bagi sebagian orang yang baru berkecimpung di dunia investasi masih belum memahami apa itu ROI serta cara menghitung ROI dengan benar. Maka dari itu, pada kali ini Bitocto akan membahas artikel seputar Return on Investment. Simak sampai habis, yuk!

Apa itu ROI?

Jika diterjemahkan secara sederhana, Return on Investment atau disingkat ROI adalah laba atas investasi. Nilai yang dicari dalam perhitungan ROI adalah persentase keuntungan atau imbal hasil dari investasi berdasarkan keseluruhan laba dan biaya yang dibayarkan.

Hasilnya, dengan hal itu Anda bisa mengetahui dengan jelas tingkat profitabilitas dari sebuah investasi. Dengan kata lain, fungsi ROI adalah untuk menilai efisiensi dari suatu kegiatan investasi. Dengan proses yang terukur, setiap investasi yang Anda lakukan tentunya akan memiliki risiko kerugian rendah.

Peluang keuntungan yang didapat pun bisa diprediksi dengan tepat. Selain itu, ROI adalah sebagai salah satu faktor dalam mengambil keputusan investasi agar tepat sasaran. Fungsi lain dari ROI adalah bisa membantu Anda dalam mempertimbangkan ulang rencana investasi terhadap suatu aset. Apabila nilainya positif, maka hal itu pertanda baik.

Dalam artian, investasi yang direncanakan dapat menghasilkan laba atau setidaknya biaya investasi yang sudah dikeluarkan bisa tertutupi dari laba tersebut. Di sisi lain, jika hasil nilainya negatif, sebaiknya investasi tersebut jangan diteruskan karena dapat berpotensi rugi.

Baca juga: Rasio Profitabilitas: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contoh

Pengertian ROI menurut para ahli

Berdasarkan pengertian umum di atas, ROI adalah konsep yang digunakan dalam menghitung persentase keuntungan bersih seseorang ketika berinvestasi. Namun, terdapat beberapa pengertian menurut para ahli mengenai ROI adalah:

1. Rahardjo (2009)

ROI adalah rasio yang dipakai untuk menilai seberapa mampu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan terhadap investasi yang mereka lakukan.

2. Syamsudin (2011)

ROI singkatan dari Return on Investment adalah skala perbandingan antara profit bersih sesudah pajak dengan total aktiva.

3. Kasmir (2015)

ROI artinya rasio pengembalian (return) atas aktiva yang dipakai suatu pihak dalam sebuah perusahaan. Selain itu, ROI adalah skala penilaian efektivitas manajemen suatu aktivitas investasi.

Baca juga: Mengenal Manajemen Keuangan, Fungsi, Tujuan, serta Contohnya

Faktor yang mempengaruhi ROI

Kemudian, terdapat 2 faktor yang mempengaruhi penghitungan ROI. Perubahan nilai pada kedua faktor ini bisa memberikan perubahan juga terhadap pengembalian investasi yang dihasilkan. Faktor-faktor dalam ROI adalah:

1. Profit margin

Semakin tinggi hasil penghitungan profit margin atau rasio laba penjualan investasi, maka keuntungan yang diperoleh dalam ROI juga akan semakin meningkat.

2. Siklus perputaran aset operasi

Siklus perputaran aset operasi meliputi gedung, uang kas, peralatan, hak paten perusahaan, dan aset lainnya yang berperan penting dalam jalannya perusahaan. Faktor ini juga bisa menjadi faktor seberapa baik perusahaan dalam mengendalikan aset operasional yang dimiliki.

Baca juga: Equity adalah: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Cara Menghitung

Rumus dan cara menghitung ROI

ROI adalah hasil pendapatan yang diperoleh dari investasi atau penanaman modal pada sebuah perusahaan di suatu negara. Dalam arti lain harus terdapat keterlibatan pembayaran pajak di dalamnya. Dalam transaksi saham secara general, pajak yang dibebankan adalah sebesar 0,1% dari bruto penjualan saham. Maka dari itu, rumus ROI adalah sebagai berikut:

ROI = Laba bersih setelah dipotong pajak : Total aktiva x 100%

Agar Anda lebih memahami rumus ROI di atas, simak contoh cara menghitung ROI sebagai berikut:

Diasumsikan Anda adalah seorang investor individu yang akan menanamkan modal kepada sebuah perusahaan di bidang ritel. Diprediksikan keuntungan atau profit bersih yang akan diterima pada bulan April mendatang adalah sebesar 45 juta rupiah. Sementara, total aset dana yang Anda tanamkan pada perusahaan itu adalah sebanyak 550 juta rupiah. Maka, angka ROI yang diperoleh adalah:

ROI = Laba bersih setelah dipotong pajak : Total aktiva x 100%

ROI = 45.000.000 : 550.000.000 x 100%
ROI = 0,08 x 100%
ROI = 8%

Berdasarkan hasil dari cara menghitung ROI tersebut, dapat dilihat bahwa persentase ROI menyatakan angka 8%. Artinya, kemungkinan besar investasi yang Anda lakukan bisa menghasilkan profit dan meningkatkan pendapatan sebesar 8% atau sama dengan 45 juta rupiah.

Oleh sebab itu, sebaiknya Anda tetap menanamkan modal tersebut di perusahaan ini untuk periode selanjutnya.

Baca juga: CAGR Adalah: Pengertian, Rumus dan Cara Menghitungnya

Kelebihan dan Kelemahan ROI

Penggunaan ROI bisa memberikan manfaat atau kelebihan. Di samping hal itu, terdapat juga kelemahan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Saat melakukan penghitungan, Anda perlu memahami keduanya supaya tidak ada kesalahan paham seputar apa itu ROI.

Kelebihan

Berikut ini beberapa kelebihan ROI yang sangat bermanfaat bagi Anda dalam mempertimbangkan rencana investasi  adalah:

  • Perusahaan bisa mengukur efisiensi semua aspek investasi, dikarenakan sifat ROI yang menyeluruh. Kelebihan ini dapat lebih maksimal bila akuntansinya telah dijalankan dengan baik.
  • Selain itu, ROI bisa digunakan sebagai bahan perbandingan dengan perusahaan lain apabila rasio industri sudah diketahui.
  • ROI adalah salah satu hal yang mendasari Anda dalam mengambil keputusan investasi, baik itu berupa pembelian maupun pendanaan.

Baca juga: Akuntan Publik: Definisi, Tugas, dan Jenis-Jenis Jasanya

Kekurangan

Selain kelebihan-kelebihan tadi, adapun beberapa kelemahan ROI yang mesti Anda ketahui agar penggunaan pengembalian investasi ini tak membuat perusahaan mengabaikan pertimbangan lainnya adalah:

  • Susah untuk membandingkan rate of return antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya yang mungkin praktik akuntansinya berbeda. Perbedaan tersebut bisa mengakibatkan kesalahan perbandingan.
  • Fluktuasi atau naik turunnya nilai tukar uang dapat mempengaruhi penghitungan profit margin. Hal itu disebabkan adanya perbedaan atas pembelian yang dilakukan pada saat inflasi maupun ketika tidak inflasi.
  • Selanjutnya, tingkat keefektifan ROI belum bisa dipastikan, karena hal itu tidak turut menghitung biaya modal. Masalahnya, biaya modal adalah unsur cukup penting dalam melihat tingkat penggunaan modal investasi.

Nah, itulah ulasan mengenai ROI mulai dari pengertian hingga kelemahannya yang bisa dipahami oleh OctoMate. Berdasarkan penjelasan di atas, Anda dapat menyusun strategi investasi lebih matang terhadap aset tersebut.

Untuk mengetahui informasi lainnya seputar investasi, Anda bisa kunjungi bagian Investasi 101. Semoga bermanfaat!

Baca Juga: Investasi Jangka Panjang: Tujuan, Jenis, Contoh & Plus Minus

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin