Relative Strength Index (RSI)

Pengertian RSI (Relative Strength Index) dan Penerapannya

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Relative Strength Index atau RSI adalah salah satu indikator analisis teknikal yang banyak digunakan dalam kegiatan trading. Indikator ini pertama kali dikenalkan sekaligus dkembangkan oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978.

Tujuan dari analisis teknikal RSI adalah mengukur besarnya volatilitas harga suatu aset. Dengan begitu dapat dilihat apakah aset tersebut dalam posisi oversold (jenuh jual) atau overbought (jenuh beli). Ingin tahu lebih lanjut? Yuk simak artikel berikut ini.

Apa itu RSI (Relative Strength Index)?

Dalam aktivitas trading saham, pemahaman akan bentuk dan waktu transaksinya sangat diperlukan. Adanya indikator pengukur kekuatan dalam analisis pasar keuangan ini menjadikan trader sadar akan pola di pasar saham, dan bahkan memprediksi tren saham di masa depan.

RSI adalah singkatan dari Relative Strength Index yang merupakan salah satu indikator teknis pengukur besar perubahan harga suatu aset. Pada awalnya, tujuan J. Welles Wilder membuat RSI adalah untuk memprediksi keuntungan. Saat ini, RSI banyak digunakan dalam analisa teknikal seputar besar volatilitas aset.

Umumnya dalam dunia trading, peran RSI atau Relative Strength Index adalah sebagai parameter momentum. Tugasnya yaitu untuk mengukur pergerakan harga saham dan memantau perubahannya. Indikator ini dapat menunjukkan volatilitas aset dalam periode tertentu. Namun pada umumnya penggunaan analisa teknikal ini diberlakukan selama 14 hari.

Penjelasan Indikator RSI

Setelah mengenal apa itu Relative Strength Index atau RSI, Anda perlu tahu penjelasan tentang indikator volatilitas harga saham ini. Hal utama yang harus diperhatikan adalah angka RSI sendiri. Lantas, bagaimana cara membaca informasi dalam grafik RSI?

Sebagai pengukur pergerakan harga saham, RSI menerapkan sistem tingkatan angka dari 0-100 yang dibagi menjadi tiga zona. Peningkatan ≥ 70 masuk dalam kategori zona pembelian berlebih. Apabila ≤ 30, maka bisa dimasukkan dalam zona penjualan berlebih. Adapun dikategorikan dalam zona netral jika menunjuk angka 50.

Jika grafik aset menunjukkan pergerakan melampaui angka 50 atau zona netral, maka bisa dikatakan bahwa sedang terjadi tren naik. Sebaliknya, tren turun akan terjadi jika volatilitas aset terpantau memasuki area di bawah 50. Untuk itu, pemantauan secara rutin harus selalu dilakukan agar Anda tetap mendapatkan informasi pergerakan harga aset terkini.

Baca juga: Tips & Cara Trading Bitcoin untuk Pemula agar Profit Maksimal 

Kapan Waktu tepat Membeli dan Menjual Aset dengan RSI?

Analisa RSI adalah alat praktis guna memantau pergerakan harga aset. Dengan membaca dan mengamati dinamika tersebut, maka Anda bisa mengetahui saat tepat untuk melakukan pembelian atau penjualan aset. Lantas, bagaimana cara mengetahuinya?

Penanda dalam transaksi trading bisa dilihat dari minat jual dan beli yang sedang berlaku di pasar saham. Apabila indikator menunjukkan angka 70, maka spekulator harus mempertimbangkan untuk menjual aset.

Sebaliknya pada nilai 30, diperlukan pertimbangan untuk melakukan pembelian aset. Adapun pergerakan harga sendiri tergantung pada kondisi pasar sahamnya.

Periode default indikator RSI adalah 14 hari. Namun biasanya trader dapat mengaturnya menjadi 7 hari untuk meningkatkan sensitivitas periodenya. Sebaliknya, pengaturan indikator bisa diubah menjadi 21 hari guna menurunkan tingkat sensitivitasnya.

Formula dan Perhitungan RSI

Seperti yang diketahui sebelumnya, RSI adalah singkatan dari Relative Strength Index. Maka dari itu, penghitungannya membutuhkan dua bagian grafik. Pada umumnya, formula diterapkan untuk menghitung RSI awal dahulu sebelum melanjutkan ke penghitungan selanjutnya. Adapun formula hitungan RSI awal adalah:

RSI= 100 – [100 / 1 + Rata-rata keuntungan/Rata-rata kerugian]

Setelah itu, gunakan nilai rata-rata keuntungan sebelumnya dan keuntungan terkini untuk menghitung RSI kedua. Begitu pula dengan nilai kerugian. Gunakan rata-rata kerugian pada RSI awal ditambahkan dengan kerugian terkini.

Selain menghitung RSI, trader juga harus mengamati grafik pergerakan nilai aset untuk melihat apakah tren sedang naik atau turun. Secara umum, standar yang ditetapkan dalam indikator volatilitas RSI adalah antara 30% – 70%. Hal ini dilakukan guna menentukan waktu tepat melakukan pembelian atau penjualan aset.

Strategi Trading dengan RSI

Setelah mengetahui apa itu Relative Strength Index, trader perlu menerapkan strategi dalam melakukan transaksi penjualan atau pembelian saham. Lantas, apa saja prosedur pelaksanaannya? Macam-macam strategi trading menggunakan RSI adalah:

1. Aturan Jual

Dalam strategi ini, trader harus memastikan bahwa nilai RSI berada di atas 70. Kemudian tunggu hingga turun di bawah 70. Tunggu hingga candlestick bearish muncul setelah RSI lepas dari kejenuhan pembelian dan close terlebih dahulu.

Baru pada pembukaan setelahnya, trader dapat melakukan entry dengan menempatkannya sedikit di atas swing low akhir guna menghindari kerugian.

2. Aturan Beli

Untuk strategi ini, trader harus menunggu RSI turun hingga di bawah angka 30. Kemudian pantau hingga indikator melampaui angka 30. Tunggu hingga RSI meninggalkan zona oversold hingga candlestick close. Lalu pada pembukaan selanjutnya, trader bisa melakukan entry atau beli dan menetapkan stop loss di bawah titik swing low akhir.

3. Aturan Failure Swing

Pada momen tertentu, grafik RSI tidak berbalik arah secara konsisten. Hal ini disebut dengan failure swing atau gagal ayunan. Dalam kegiatan analisa trading dengan RSI, terdapat dua macam fenomena gagal ayunan ini, yaitu Bearish Failure Swing dan Bullish Failure Swing.

Indikasi terjadinya Bearish Failure Swing dalam RSI adalah apabila pembalikan arah tertunda setelah terjadi overbought atau pembelian berlebih. Sebaliknya, Bullish Failure Swing dapat dilihat dari posisi oversold yang tidak berbalik turun namun malah melejit tinggi.

Itu dia penjelasan mengenai apa itu RSI. Kesimpulannya, RSI adalah indikator trading yang akan membantu Anda dalam menentukan kapan akan beli atau jual aset. Nah, selain dari artikel ini, Anda juga bisa menonton penjelasan singkat seputar RSI di video Relative Strength Index by Bitocto berikut. Semoga bermanfaat!

Baca juga: Apa Itu Stop Loss dan Take Profit? Begini Cara Menentukannya

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin