rasio profitabilitas

Rasio Profitabilitas: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contoh

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Istilah keuntungan atau profit pasti sudah sering terdengar di telinga. Namun, bagaimana dengan rasio profitabilitas? Dalam bidang akuntansi, rasio profitabilitas adalah matriks keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas kepemilikan aset.

Lalu bagaimana cara menghitungnya? Simak jawaban selengkapnya pada artikel Bitocto berikut ini.

Pengertian rasio profitabilitas

Tahukah Anda apa itu rasio profitabilitas? Rasio profitabilitas adalah sebuah perhitungan yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode tertentu.

Rasio profitabilitas adalah bahan evaluasi yang menunjukkan bisnis dalam perusahaan tersebut dikelola secara optimal dengan memanfaatkan semua aset. Rasio bernilai tinggi lebih banyak disukai karena memberikan gambaran baik mengenai performa perusahaan.

Pengertian rasio profitabilitas menurut para ahli

Setelah membahas pengertian rasio profitabilitas, lalu bagaimana para ahli mendefinisikan rasio profitabilitas? Nah, berikut adalah pengertian rasio profitabilitas menurut para ahli.

1. Harahap

Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang perusahaan, dan lain sebagainya.

2. Riyanto

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Perusahaan dengan kemampuan menghasilkan laba yang baik menunjukkan kinerja perusahaan baik pula sebab profitabilitas sering dijadikan sebagai ukuran untuk menilai kinerja perusahaan.

3. Sawir

Profitabilitas adalah hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan. Profitabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan dengan membandingkan antara laba dan modal yang digunakan dalam operasi.

4. Munawir

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode waktu tertentu.

Jenis rasio profitabilitas

Dalam mengetahui kinerja perusahaan, ada 2 jenis rasio profitabilitas, yaitu sebagai berikut.

1. Rasio marjin

Rasio marjin menjelaskan kapasitas perusahaan dalam mengubah jumlah penjualan menjadi laba bisnis pada berbagai pengukuran. Contoh rasio profitabilitas adalah margin laba operasi, margin laba kotor, margin laba bersih, margin arus kas, rasio overhead, rasio biaya operasi EBITDAR, NOPAT, dan EBIT.

2. Rasio pengembalian

Rasio pengembalian adalah rasio yang menjelaskan kemampuan perusahaan dalam memastikan pemegang saham mendapatkan return atau pengembalian dari kegiatan operasionalnya.

Contoh rasio profitabilitas jenis pengembalian adalah laba atas ekuitas, pengembalian aset, pengembalian tunai atas aset, laba atas laba ditahan, pengembalian utang, laba atas modal yang diinvestasikan, laba atas pendapatan dan laba atas modal yang digunakan.

Baca juga: Return On Investment (ROI): Pengertian dan Cara Menghitungnya

Fungsi rasio profitabilitas

Pengertian rasio profitabilitas adalah matriks keuangan guna mengetahui seberapa baik performa perusahaan dalam meraih laba. Nah, apa saja fungsinya?

  • Sebagai alat evaluasi yang digunakan pihak ketiga seperti investor dan bank untuk mengukur seberapa baik kinerja perusahaan
  • Guna mengetahui dengan pasti perolehan profit perusahaan
  • Sebagai alat evaluasi internal untuk memperbaiki kinerja dan manajemen bisnis
  • Indikator yang menunjukkan seberapa layak suatu saham dibeli investor 
  • Untuk mengetahui efisiensi kerja suatu perusahaan

Rasio profitabilitas yang paling sering digunakan dalam bisnis

Setelah mengetahui apa itu rasio profitabilitas, berikut adalah jenis-jenis rasio profitabilitas yang sering digunakan dalam bisnis.

1. Gross profit ratio

Gross profit ratio dalam rasio profitabilitas adalah matriks yang membandingkan laba kotor dalam kegiatan operasional terhadap pendapatan penjualan. Dalam perhitungan gross profit ratio, laba dihitung dengan mempertimbangkan penggunaan biaya produksi.

Jika gross profit ratio memiliki nilai tinggi, berarti pendapatan penjualan masih mampu menutupi biaya produksi, depresiasi serta membayar dividen kepada pemegang saham.

Nah, cara menghitung rasio profitabilitas jenis gross profit ratio adalah:

Gross Profit Ratio = Laba Kotor / Pendapatan Penjualan

2. Marjin keuntungan operasional

Marjin keuntungan operasional menunjukkan pendapatan sebagai persentase dari nilai penjualan sebelum pembayaran beban bunga dan pajak penghasilan.

Dengan perhitungan marjin keuntungan operasional, perusahaan dilihat lebih mampu dalam pembayaran biaya produksi tetap dan bunga atas kewajiban serta berpotensi menawarkan produknya dengan harga lebih terjangkau.

3. Marjin EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortisation)

Marjin EBITDA jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya Penghasilan Sebelum Pembayaran Bunga, Pajak, Depresiasi (Penyusutan) dan Amortisasi. Sesuai dengan namanya, marjin EBITDA dalam rasio profitabilitas adalah kapasitas perusahaan sebelum pembayaran variabel-variabel di atas.

4. Marjin arus kas

Marjin arus kas menjelaskan korelasi antara arus kas dari aktivitas operasional dan penjualan. Dengan kata lain, marjin arus kas menggambarkan kapasitas perusahaan dalam mengubah penjualan menjadi kas, sehingga makin tinggi besaran persentase arus kas, makin banyak uang tunai kas guna memenuhi utang, dividen serta pembelian aset.

5. Net profit margin

Net profit margin (NPM) atau marjin laba bersih digunakan untuk mengukur keuntungan bersih dan membaginya dengan total pendapatan. Penjelasan mengenai hasil perhitungan marjin laba bersih memberikan deskripsi mengenai seberapa profitable suatu perusahaan setelah semua biaya termasuk pajak diperhitungkan.

Ketika menghitung NPM, informasi yang diperlukan adalah beban/biaya operasional dan nilai penjualan netto.

Cara menghitung rasio profitabilitas NPM:

NPM = 1 – (Beban / Penjualan Netto)

6. Return on Equity (ROE)

ROE dalam rasio profitabilitas adalah porsi laba bersih secara relatif terhadap ekuitas pemegang saham. Untuk investor, ROE digunakan untuk mengetahui seberapa menguntungkannya nilai saham perusahaan terkait. 

Dalam pembahasan ROE, cara menghitung rasio profitabilitas adalah sebagai berikut.

ROE = Laba Bersih Setelah Pembayaran Pajak / Ekuitas Pemegang Saham

7. Return on Invested Capital (ROIC)

Return on Invested Capital adalah nilai return atau pengembalian dari pemegang obligasi dan saham. Sedangkan cara menghitung rasio profitabilitas ROIC dapat dilakukan dengan langkah berikut.

ROIC = (Pendapatan Netto – Dividen) / Invested Capital

8. Return on Assets (ROA)

ROA dalam rasio profitabilitas adalah tingkat pengembalian aset atau persentase laba bersih terhadap aset total perusahaan. Dari perhitungan ROA, dapat diketahui jumlah laba setelah pembayaran pajak relatif terhadap nilai aset perusahaan. 

Dalam pembahasan ROA, rumus rasio profitabilitas adalah:

ROA = Pendapatan Bersih / Total Aset

Contoh rasio profitabilitas

Bagaimana contoh rasio profitabilitas dalam perhitungannya?

Sebuah toko memperoleh hasil penjualan senilai Rp20 juta. Bulan lalu, toko tersebut menganggarkan biaya sebesar Rp10 juta guna menutupi segala keperluan toko.

Maka perhitungan Net Profit Margin (NPM) adalah:

NPM = 1 – (Rp10 juta / Rp20 juta)

NPM = 1 – 0.5 

NPM = 0.5

Sehingga dapat diketahui bahwa nilai profit margin toko tersebut adalah 0.5 atau 50%.

Dengan menggunakan rumus rasio profitabilitas sebagai bahan evaluasi bisnis, seorang pengusaha akan mendapatkan insight lebih baik terkait pengembangan bisnisnya. 

Selain paparan di atas, Anda juga dapat menyimak artikel bermanfaat lainnya hanya di Bitocto. Yuk cek selengkapnya!

Baca juga: Capital Gain: Arti, Jenis, Cara Hitung & Beda dengan Dividen

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin