Paket Stimulus $3 Triliun dari Joe Biden Akan Mendongkrak Kenaikan Bitcoin Lebih Jauh

By 15 Januari 2021Berita

Partai Demokrat menang tipis dalam pemilihan Senat khusus di negara bagian Georgia, AS, merebut kendali Senat Amerika Serikat dari Partai Republik. Dengan demikian, Dewan Perwakilan Rakyat yang dikuasai Demokrat sekarang memiliki lebih banyak kebebasan untuk menjalankan kebijakan ekonominya.

Analis di Bank UBS percaya bahwa badan legislatif pemerintah yang bersatu akan memperlancar jalan menuju lebih banyaknya stimulus fiskal. Menurut laporan Axios, Presiden terpilih Joe Biden sedang mempertimbangkan upaya stimulus dua arah dalam bentuk cek $2,000 untuk orang Amerika dan paket pengeluaran pajak dan infrastruktur senilai $3 triliun.

Stimulus fiskal baru nampaknya dapat meningkatkan inflasi, melemahkan dolar AS dan membawa lebih banyak pembeli ke aset-aset langka seperti bitcoin dan emas.

Alex Melikhov, CEO dan pendiri Equilibrium dan EOSDT stablecoin, mengatakan bahwa stimulus tambahan akan menyuntikkan lebih banyak likuiditas ke pasar dan kemungkinan mendorong kenaikan harga bitcoin lebih lanjut.

Cryptocurrency terkemuka ini sudah berada di pasar naik yang kuat, berkat langkah-langkah peningkatan inflasi yang diadopsi oleh Federal Reserve dan pemerintah AS selama 10 bulan terakhir untuk melawan perlambatan yang disebabkan oleh COVID-19. Langkah-langkah ini telah mendorong lembaga-lembaga untuk mencari investasi yang menawarkan lindung nilai terhadap inflasi.

Harga Bitcoin telah naik dari $10,000 ke rekor tertinggi di atas $41,000 dalam empat bulan terakhir, dengan perusahaan publik seperti MicroStrategy membeli bitcoin untuk melindungi nilai cadangan perbendaharaan mereka. Tren tersebut dapat meningkat, seperti yang diperkirakan oleh JPMorgan, dengan tambahan stimulus fiskal Biden dan pelonggaran kuantitatif (pencetakkan uang) lanjutan oleh Federal Reserve.

“Stimulus Biden dapat menambah hentakkan ekstra pada harga bitcoin, tetapi tidak lebih dari mendorong kereta barang yang meluncur,” kata Jehan Chu, mitra pengelola di perusahaan investasi crypto yang berbasis di Hong Kong.

Bank sentral AS tidak mungkin melepas atau mengurangi program pembelian aset $120 miliar per bulan dalam waktu dekat dan berkomitmen untuk menjaga suku bunga pada rekor terendah untuk sementara waktu mengikuti tingkat inflasi yang naik di atas target 2%.

Inflasi Sudah Diduga

Pengukuran inflasi berbasis pasar telah mulai memperhitungkan potensi kenaikan tekanan harga yang didorong oleh stimulus dalam perekonomian. Tingkat impas 10 tahun, yang mewakili bagaimana pasar obligasi meramalkan inflasi jangka panjang, naik menjadi 2.09% pada hari Kamis (07/01), level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menurut St. Louis Federal Reserve.

Tingkat impas mencapai titik terendah di dekat 0.5% pada Maret 2020 dan terus meningkat sejak saat itu. Bitcoin telah cukup banyak meniru kenaikan ekspektasi inflasi selama 10 bulan terakhir.

Indeks dolar, yang melacak nilai greenback terhadap mata uang utama, juga memperpanjang penurunan tahun 2020 di tengah ekspektasi untuk stimulus fiskal tambahan. Indeks jatuh ke level terendah 33-bulan di 89.21 awal pekan kedua bulan Januari 2021, sementara emas, lindung nilai inflasi tradisional, menguat ke level tertinggi dua bulan mendekati $1,960 per ounce. Di samping semua ini, bitcoin telah memperoleh lebih dari 40% sejak awal tahun 2021. Cryptocurrency mencetak rekor tertinggi baru di $41,026.

“Para pedagang melihat ke arah kelemahan dolar yang akan berkorelasi dengan kenaikan lebih lanjut bitcoin,” kata Matthew Dibb, salah satu pendiri, dan COO dari Stack Funds. “Jika penuruna terjadi, cenderung berumur pendek, dengan indikator teknikal menunjukkan tanda-tanda kecil harga mendekati puncak pasar naik (tren naik belum selesai).”

“Pasar crypto akan memakan habis stimulus baru Biden,” lanjutnya.

 

Source : Omkar Godbole on Coindesk

Disclaimer : Metode, angka, teknik, pendapat, saranan atau indikator yang disajikan pada berita ini berasal dari sumber yang tertera, tidak boleh diasumsikan akan menguntungkan dan tidak akan menimbulkan kerugian. Berita ini disampaikan dengan tujuan sebagai bahan edukasi dan informasi, dan bukan merupakan saran investasi. Penulis, penerbit, dan semua afiliasi tidak bertanggung jawab atas hasil transaksi anda.