apa itu pailit

Apa Itu Pailit? Syarat, Contoh, dan Bedanya dengan Bangkrut

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Pailit adalah suatu istilah yang familiar dalam bisnis maupun aset perusahaan. Orang-orang seringkali menyamakannya dengan bangkrut, padahal keduanya berbeda. Badan usaha yang dipailitkan pun belum tentu keuangannya buruk, namun pada akhirnya mereka dapat mengalami kebangkrutan.

Pailit adalah kondisi ketika debitur tidak dapat melunasi hutang-hutangnya kepada dua atau lebih kreditur. Oleh karena itu, pihak yang memiliki piutang terhadapnya pun mengajukan permohonan kepada pengadilan niaga. Yuk ketahui lebih lanjut mengenai pengertian, syarat, contoh, dan bedanya kepailitan dengan bangkrut!

Apa Itu Pailit?

Pailit adalah situasi dimana seseorang atau perusahaan yang tidak mampu membayar hutang maupun tagihannya terhadap dua atau lebih debitur hingga jatuh tempo dan dapat terus ditagih. Kemudian, ia dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan niaga berkekuatan hukum tetap baik karena permohonan pribadi maupun gugatan dari kreditur.

Dampak dari adanya pailit adalah harta debitur akan dijual lalu dikelola oleh kurator untuk melunasi hutang-hutang debitur kepada para kreditur. Apabila debitur keberatan dengan putusan tersebut, ia dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Baca juga: Settlement Adalah: Pengertian, Fungsi, Contoh, dan Cara Catat

Dasar Hukum Pailit

Dasar hukum dapat dilakukannya pailit adalah Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Dalam UU ini dijelaskan mengenai pengertian, pelaksanaan, dan upaya hukum yang dapat dilakukan dalam mempailitkan seseorang atau suatu lembaga.

Menurut undang-undang ini, permohonan pailit dapat diajukan oleh kreditur maupun debitur secara langsung kepada panitera atau ketua pengadilan niaga untuk kemudian didaftarkan. Apabila bisa diproses, maka persidangan kepailitan akan dilakukan minimal 20 hari setelah pendaftaran.

Baca juga: Jaminan Fidusia: Pengertian, Dasar Hukum, Jenis dan Contohnya

Penyebab Pailit

Hal-hal yang menyebabkan pailit adalah sebagai berikut.

  • Terdapat hutang yang belum mampu dibayarkan.
  • Perusahaan lambat dalam melakukan inovasi sehingga bisnisnya mengalami kemunduran.
  • Perusahaan tertinggal dari kompetitor dalam hal inovasi.
  • Tidak mampu mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan oleh konsumen sehingga perusahaan tak memberikan layanan maupun produk sesuai keinginan pasar.
  • Harga jual produk terlalu mahal sehingga konsumen beralih pada produk dari kompetitor.

Baca juga: Mengenal Arti Resesi, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Syarat Pailit

Ada beberapa syarat permohonan pailit yang harus dipenuhi perusahaan untuk bisa mengajukan pernyataan pailit. Syarat pailit adalah sebagai berikut:

  • Perusahaan mempunyai hutang.
  • Terdapat sejumlah hutang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih.
  • Adanya debitur.
  • Adanya kreditur.
  • Terdapat permohonan pernyataan pailit.
  • Pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga.

Baca juga: Simak 7 Contoh Surat Kuasa, Unsur, Struktur & Cara Buatnya!

Contoh Perusahaan Pailit

Di Indonesia, terdapat beberapa perusahaan yang telah dinyatakan pailit oleh negara. Beberapa contoh perusahaan pailit adalah sebagai berikut

  • TPI
  • Perusahaan Nyonya Meneer
  • Peti Kemas Multicon
  • PT. Asuransi Jiwa Nusantara
  • Bali Kuta Residence
  • PT Sariwangi Dinas Pertanian lahan (PSAB)
  • Akira
  • PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (MPISW)

Baca juga: Arbitrase: Pengertian, Contoh, Aturan, Prosedur, dan Jenisnya

Perbedaan Pailit dan Bangkrut

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa bangkrut dan pailit adalah dua hal yang sama. Meski sama-sama dihindari oleh para pelaku bisnis, pada dasarnya penerapan bangkrut dan pailit cukup berbeda. Lalu sebenarnya, apa perbedaan pailit dan bangkrut?

Bangkrut diartikan sebagai kondisi dimana perusahaan mengalami kerugian besar sehingga membuatnya terpaksa harus jatuh dan gulung tikar. Itu artinya, bangkrut disebabkan oleh tidak sehatnya keadaan keuangan dan berakhir pada ketidakmampuan perusahaan untuk menutup kerugian yang ditanggung.

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 halaman 27 menyatakan bahwa kebangkrutan terjadi akibat faktor eksternal dan mismanagement di luar wewenang pelaku usaha itu sendiri.

Sementara itu, pailit adalah kondisi yang bisa terjadi walaupun keadaan keuangan perusahaan dinyatakan sehat. Hal ini disebabkan perusahaan yang terlilit oleh hutang.

Pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa perusahaan dapat dinyatakan pailit sesuai putusan pengadilan apabila debitur memiliki dua atau lebih kreditur dan tidak membayar hutang yang dimiliki dengan lunas saat dapat ditagih serta jatuh tempo. Selain itu, perusahaan juga bisa meminta status pailit itu dengan sendirinya.

Baca juga: Equity adalah: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Cara Menghitung

Cara Mengajukan Permohonan Pailit

Menyambung dari poin sebelumnya, sebuah perusahaan dapat meminta status pailit tersebut sendiri. Namun sebelum itu, pahami terlebih dahulu bahwa pihak yang berhak mengajukan pailit adalah sebagai berikut:

  • Debitur mengajukan permohonan pailit tanpa adanya paksaan.
  • Berdasarkan permintaan dari satu kreditur atau lebih.
  • Kejaksaan atas nama kepentingan hukum.
  • Badan Pengawas Pasar Modal atau perusahaan efek.
  • Bank Indonesia.

Setelah itu, pihak yang berhak tersebut dapat mengajukan pailit dengan langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan pengajuan sesuai syarat permohonan pailit yang telah diatur dalam Undang-Undang No.4 Tahun 1998.
  2. Keputusan pailit mempunyai kekuatan yang tetap dan tidak bisa diganggu gugat. Jangka waktu pengajuan permohonan hingga keputusan pailit dijatuhkan juga memiliki kekuatan tetap selama 90 hari.
  3. Rapat verifikasi yang akan membahas pendataan jumlah nominal hutang dan piutang debitur. Rapat verifikasi ini penting untuk menentukan urutan pertimbangan hak untuk kreditur.
  4. Perdamaian. Jika berhasil maka proses kepailitan akan berakhir atau tidak dilanjutkan. Namun apabila tidak berjalan lancar, proses kepailitan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
  5. Jika perdamaian berhasil maka selanjutnya yaitu homogolasi akur atau sebuah proses permohonan pengesahan oleh Pengadilan Niaga.
  6. Insolvensi atau keadaan dimana debitur dinyatakan tidak dapat melunasi hutang-hutangnya karena jumlah hartanya lebih sedikit daripada jumlah hutangnya.
  7. Likuidasi atau pemberesan. Harta kekayaan debitur akan dijual dan dibagikan kepada para kreditur konkruen setelah dikurangi dengan biaya-biaya.
  8. Rehabilitasi atau usaha untuk memulihkan nama baik kreditur. Tahapan ini hanya akan dilakukan jika proses perdamaian diterima. Jadi jika perdamaian tidak berhasil, maka rehabilitasi tidak perlu dilakukan.
  9. Proses kepailitan berakhir.

Baca juga: Negosiasi adalah: Tujuan, Tahapan, Ciri, dan Contohnya

Cara Mencegah Pailit

Pailit bukanlah suatu kondisi yang baik bagi sebuah perusahaan. Namun, keadaan ini tetap dapat dicegah dengan beberapa cara berikut:

  • Mengelola arus keuangan perusahaan dengan baik.
  • Membuat dan menjalankan strategi bisnis yang efisien dan efektif.
  • Melakukan evaluasi secara rutin untuk mengetahui penyebab ketidakmajuan atau stagnasi bisnis.
  • Melakukan upaya peningkatan pelayanan terhadap pelanggan.
  • Lebih terbuka untuk menerima berbagai inovasi sekaligus mempertimbangkan ide-ide dari anggota perusahaan.
  • Mengikuti pelatihan dan meminta saran profesional dalam mengembangkan bisnis.

Dari penjelasan Bitocto di atas, dapat disimpulkan bahwa pailit adalah suatu kondisi ketidakmampuan pembayaran hutang akibat pengelolaan bisnis yang buruk. Oleh karena itu, ketika menjalankan perusahaan, pastikan Anda mengambil keputusan tepat berdasarkan banyak pertimbangan agar tidak terlilit hutang. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa!

Baca juga: Apa itu Sekuritas? Pengertian, Jenis Beserta Tips Memilih

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin