Dollar Cost Averaging

Kenali Apa itu Konsep Dollar Cost Averaging dalam Berinvestasi

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Di kalangan pelaku bisnis dan investasi, penggunaan strategi Dollar Cost Averaging adalah sebuah hal yang sudah menjadi standar.

Mengingat dunia bisnis dan investasi memiliki risiko yang cukup besar, kemampuan untuk melakukan manajemen risiko menjadi penting. Salah satunya adalah dengan penerapan strategi ini.

Lalu, apa itu konsep Dollar Cost Averaging sebenarnya? Bagaimana penerapan dan contohnya? Serta apa kelebihan dan kekurangan dari strategi ini?

Apa itu Dollar Cost Averaging?

Perata-rataan Biaya atau Dollar Cost Averaging adalah adalah sebuah strategi untuk mengambil keuntungan dari fluktuasi nilai pasar dan meminimalkan risiko. 

Caranya yaitu dengan melakukan investasi secara bertahap sesuai dengan anggaran waktu yang Anda inginkan.

Bayangkan jika Anda memiliki dana simpanan sebesar Rp100 juta yang akan Anda investasikan. 

Daripada langsung berinvestasi Rp100 juta sekaligus, Anda dapat melakukannya secara bertahap sebesar Rp10 juta per bulan selama 10 bulan.

Metode Dollar Cost Averaging berjalan atas dasar bahwa pasar selalu fluktuatif, terkadang naik dan turun. Jika Anda berinvestasi secara besar sekaligus, maka tatkala pasar turun, tak ada yang tersisa dari nilai investasi Anda.

Sebaliknya, jika Anda berinvestasi secara bertahap, saat pasar turun, nilai investasi Anda memang turun. Tapi, Anda masih bisa menambah investasi baru dengan modal yang justru lebih murah.

Baca juga: Biaya Investasi: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Contoh Konsep Dollar Cost Averaging Dalam Membeli Koin Crypto

Contoh penerapan strategi ini akan lebih mudah Anda pahami jika diuraikan dalam bentuk cerita dan tabel.

Misal, Anda memiliki simpanan dana untuk investasi sebesar Rp100.000.000. Rencananya, Anda akan investasikan selama 10 tahap dalam 10 bulan.

Setelah mengamati pasar, Anda memutuskan untuk membeli XRP (Ripple) Coin yang saat itu memiliki harga Rp25.000.

Jika Anda menggunakan strategi konvensional, Anda akan langsung menginvestasikan semua dana Anda saat itu juga. 

Dengan kata lain, Anda membelikan Rp100.000.000 tersebut koin XRP dengan harga Rp25.000 per koin. Hasilnya, Anda mendapatkan 400 koin.

Selama 10 bulan, koin XRP mengalami fluktuasi (naik-turun), dan akhirnya berada pada angka Rp28.000 per koin. Maka, nilai akhir investasi Anda menjadi Rp 28.000 x 400 = Rp 112.000.000.

Kira-kira, perjalanan investasi Anda seperti ini.

Waktu Harga XRP Nilai Investasi Jumlah Koin Dibeli Total Koin Dimiliki Total Nilai Investasi
Bulan 1 Rp25.000 Rp100.000.000 4000 4000 Rp100.000.000
Bulan 10 Rp28.000 Rp100.000.000 4000 4000 Rp112.000.000
  Cost Total Modal  Total Koin Dimiliki Nilai Investasi Laba/Rugi 
  25000 Rp100.000.000 4000 Rp 112.000.000 Rp12.000.000

Lalu, bagaimana jika menggunakan konsep Dollar Cost Averaging? Alih-alih langsung menginvestasikan seluruh investasi Anda di awal, Anda memilih untuk membaginya dalam 10 tahapan investasi.

Misal, di bulan 1 Anda menginvestasikan Rp10.000.000. Selanjutnya, di bulan ke-2 Anda menginvestasikan dana dengan besaran yang sama. 

Kemudian, tak peduli apakah harga naik atau turun, Anda rutin memasukkan Rp10.000.000 setiap bulan selama 10 bulan tersebut.

Maka, perjalanan investasi Anda akan menjadi seperti berikut.

Waktu Harga XRP Nilai Investasi Jumlah Koin Dibeli Total Koin Dimiliki Total Nilai Investasi
Bulan 1 Rp25.000 Rp10.000.000 400 400 Rp10.000.000
Bulan 2 Rp26.000 Rp10.000.000 385 785 Rp20.400.000
Bulan 3 Rp27.000 Rp10.000.000 370 1155 Rp31.184.615
Bulan 4 Rp25.000 Rp10.000.000 400 1555 Rp38.874.644
Bulan 5 Rp20.000 Rp10.000.000 500 2055 Rp41.099.715
Bulan 6 Rp 22.000 Rp10.000.000 455 2510 Rp55.209.687
Bulan 7 Rp24.000 Rp10.000.000 417 2926 Rp70.228.749
Bulan 8 Rp26.000 Rp10.000.000 385 3311 Rp86.081.145
Bulan 9 Rp27.000 Rp10.000.000 370 3681 Rp99.391.958
Bulan 10 Rp28.000 Rp10.000.000 357 4038 Rp113.073.142
  Cost-Average  Total Modal  Total Koin Dimiliki Nilai Investasi Laba/Rugi 
  Rp25.000 Rp100.000.000 4038 Rp113.073.142 Rp13.073.142

Perhatikan bahwa meski pasar fluktuatif dan Anda mengeluarkan cost average yang sama (Rp25.000), tapi Anda bisa profit lebih.

Total koin yang Anda miliki selisih 38 koin lebih besar dan profit yang Anda dapatkan selisih Rp1.073.142.

Baca juga: Lima Strategi Investasi Bitcoin

Kelebihan Dollar Cost Averaging

Dengan menerapkan strategi tersebut, kelebihan yang Anda dapat dari konsep dollar cost averaging adalah:

  1. Risiko lebih kecil. Jika pasar ambruk dalam bulan ke-4, misalnya, Anda hanya kehilangan sebagian dari dana Anda, tidak semuanya.
  2. Tidak stress. Saat pasar turun, Anda tidak stress karena melihat nilai investasi turun. Saat stress, orang sering tidak berpikir lebih jauh. Bisa saja Anda langsung jual rugi semua, padahal bisa jadi akan naik di 2-3 bulan ke depan.
  3. Saat pasar turun, Anda gembira karena masih bisa membeli lebih banyak dengan harga lebih murah. Saat pasar naik, Anda gembira karena nilai investasi Anda ikut naik. Apapun yang terjadi, Anda tetap bisa gembira.

Kekurangan Dollar Cost Averaging

Meski unggul dalam manajemen risiko, strategi ini tetap memiliki kekurangan, yaitu:

  1. Strategi ini hanya mampu meminimalisir risiko jika pasar turun dan akan naik nantinya. Tapi jika pasar benar-benar ambruk (yang mana jarang sekali terjadi), maka Anda tetap kehilangan uang, walaupun jumlahnya sedikit.
  2. Saat pasar selalu naik dan terus naik (yang mana juga jarang terjadi), Anda mungkin merasa menyesal karena tidak investasi maksimal sejak awal.

Nah, seperti itulah pengertian, contoh penerapan, serta kelebihan dan kekurangan dari strategi Dollar Cost Averaging. Apakah menurut Anda strategi ini lebih baik dari strategi investasi konvensional? Atau Anda lebih suka cara lama?

Baca juga: Cara Membaca Candlestick pada Trading Agar Profit, Simple!

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin