Apa Itu Hiperinflasi Dan Hiperdeflasi?

Share This Post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter

Kondisi ekonomi berupa inflasi dan deflasi bisa saja dialami oleh beberapa negara. Inflasi yang terjadi bisa dalam kondisi yang wajar, tetapi bisa juga menjadi sangat mengkhawatirkan bagi suatu negara. Jika harga-harga mengalami kenaikan yang signifikan, biasanya turut diikuti dengan pendapatan yang naik juga. Saat inilah kondisi ekonomi menjadi stabil dan inflasi masih dalam tahap yang wajar.

Kondisi ekonomi suatu negara tentunya harus bisa dikendalikan oleh pemerintah dengan sebaik mungkin agar tidak memberikan dampak yang terlalu buruk bagi perekonomian masyarakat. Ketika pemerintah di suatu negara mampu untuk menetapkan kebijakan moneter secara baik dan menyesuaikan dengan kondisi ekonomi yang terjadi, maka inflasi pun tidak akan terlalu menyulitkan.

Tetapi jika pemerintah tidak bisa menetapkan kebijakan secara tepat, maka yang ada adalah inflasi akan semakin menimbulkan kesulitan yang semakin parah atau disebut juga dengan hiperinflasi.

Begitu pun dengan deflasi yang merupakan kebalikan dari inflasi. Kondisi di mana harga-harga barang maupun jasa mengalami penurunan yang terus-menerus. Jika kondisi ini semakin parah, maka kondisi yang akan terjadi adalah hiperdeflasi.

Dengan adanya deflasi,  maka akan banyak perusahaan yang mengalami kerugian karena sulit untuk mendapatkan penghasilannya. Kemunculan dari hiperinflasi dan hiperdeflasi itu sendiri tentunya dikarenakan penyebab-penyebab tertentu. Dan keduanya membutuhkan penanganan yang serius agar kondisi perekonomian bisa kembali normal.

Apa Itu Hiperinflasi?

Bagi Anda yang sudah pernah mendengar kata inflasi dan memahami apa itu inflasi, maka tidak akan kesulitan untuk mengetahui dengan jelas apa sebenarnya hiperinflasi itu. Hiperinflasi merupakan sebuah istilah yang menjelaskan tentang terjadinya kenaikan harga secara umum dalam waktu yang cepat, berlebihan, dan terjadi di luar kendali dalam bidang perekonomian. Hiperinflasi ini mengalami peningkatan yang lebih pesat daripada inflasi dan biasanya bisa berukuran sampai lebih dari 50% per bulannya.

Jika diibaratkan, harga suatu barang di pagi hari bisa mengalami perubahan yang lebih tinggi di sore harinya. Sedangkan dari tingkat keparahannya, hal ini tergantung pada jenis inflasi. Untuk yang paling buruk adalah berupa inflasi berderap yang bisa membuat harga mengalami kenaikan sampai 10% dan bisa terjadi lebih dari satu tahun.

Perlu Anda ketahui bahwa untuk kondisi inflasi yang normal akan diukur dari kenaikan harga di setiap bulan. Sedangkan untuk kondisi hiperinflasi akan diukur melalui kenaikan harian eksponensial yang bisa mendekati angka 5 hingga 10% dalam sehari.

Dengan adanya hiperinflasi ini, maka dapat menimbulkan risiko bagi perekonomian. Di mana akan banyak orang yang menimbun barang, tidak terkecuali dengan barang-barang yang tidak tahan lama dan mudah rusak seperti bahan makanan di saat harga sedang naik. Hal inilah yang membuat stok bahan makanan di tengah masyarakat menjadi berkurang.

Kemudian saat harga mengalami kenaikan secara berlebih, maka tabungan yang Anda simpan di bank juga akan mengalami pengurangan nilai, bahkan menjadi tidak berharga dikarenakan daya belinya yang kecil. Kondisi ini bisa membuat keuangan orang-orang menjadi sangat buruk dan menjadi faktor penyebab dari kebangkrutan.

Faktor Terjadinya Hiperinflasi

Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya hiperinflasi sangatlah beragam. Berikut adalah beberapa faktor penyebab hiperinflasi yang perlu Anda ketahui.

1. Pemerintah Yang Mencetak Uang Untuk Mengatasi Defisit Anggaran

Untuk melaksanakan pembangunan di suatu negara, pemerintah tentunya membutuhkan anggaran yang sangat besar. Anggaran bisa diperoleh melalui beberapa sumber, baik dari pajak maupun dengan cara berhutang dengan negara lain. Namun jika dipertimbangkan kembali, ketika anggaran tersebut diambil dari pajak, apalagi hal itu dilakukan secara berlebihan, maka otomatis akan membebani masyarakat.

Sedangkan jika anggaran diambil dari hutang luar negeri, maka hal ini sama saja juga akan memberikan beban pada pemerintah di masa depan karena harus menanggung hutang tersebut. Oleh karena itu, terkadang mencetak uang menjadi jalan yang dipilih, tetapi justru kebijakan inilah yang dapat mendatangkan masalah ekonomi. Di mana dengan banyaknya uang yang beredar akan memunculkan terjadinya hiperinflasi. Ketika pemerintah mencetak uang, maka harga akan mengalami kenaikan, sedangkan nilai uang mengalami penurunan. Masyarakat sebenarnya memiliki uang, tapi daya belinya menurun karena nilai uang tidak sesuai dengan tingkat harga komoditas di negara yang bersangkutan.

2. Perang

Bagi negara yang sedang dilanda peperangan, hal ini juga menjadi faktor kemunculan hiperinflasi. Di mana perekonomian tidak dalam kondisi yang baik. Berbagai faktor ekonomi dan produksi pun tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara yang sedang perang tersebut. Selain itu, di saat perang otomatis juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Baik untuk penyediaan senjata hingga pemberian kompensasi pada para pejuangnya. Saat perang inilah, fokus pemerintah bukan lagi tertuju pada perekonomian di negaranya, tetapi berfokus pada perang tersebut. Sehingga pendapatan nasional pun mengalami penurunan karena produktivitas yang juga menurun.

3. Terjadinya Kondisi Sosial Politik Yang Buruk

Buruknya kondisi sosial dan politik di suatu negara juga bisa menjadi penyebab dari kemunculan hiperinflasi. Hal ini karena berbagai konflik yang terjadi di dalam negeri akan berpengaruh pada tidak stabilnya perekonomian di negara yang bersangkutan. Jika terjadi kekacauan, maka fasilitas-fasilitas publik biasanya mengalami kerusakan. Ketika hal ini terus terjadi, maka akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dikarenakan proses produksi yang tidak maksimal. Dengan demikian tingkat produksi pun mengalami penurunan. Dampaknya adalah menurunnya pendapatan nasional.

Hiperinflasi Di Indonesia

Diketahui bahwa pada awal periode tahun 1960-an adalah era di mana munculnya inflasi yang semakin tinggi. Di saat itulah, defisit anggaran juga semakin lebar dan diatasi dengan cara mencetak uang. Kebijakan inilah yang akhirnya semakin memperburuk kondisi ekonomi di Indonesia. Munculnya hiperinflasi ditandai dengan melajunya inflasi yang sangat tinggi pada kisaran 100% bahkan lebih. Tanda lainnya adalah hilangnya kepercayaan orang saat memegang uang. Di mana mereka akan langsung membelanjakan karena khawatir jika nilainya terus mengalami penurunan.

Hiperinflasi yang lebih dari 600% pun akhirnya menghilangkan daya beli masyarakat serta APBN yang sangat besar. Bahkan untuk infrastruktur pun semakin memburuk tanpa adanya perbaikan. Lalu di akhir era Demokrasi Terpimpin, diketahui bahwa sistem transportasi darat yang ada di Indonesia dalam kondisi yang buruk. Sedangkan di tahun 1967, kurang dari 20% dari panjang jalan nasional dan hanya sebesar 15% jalan provinsi yang tergolong dalam kondisi baik.

Di samping itu, untuk kapasitas produksi mengalami penurunan sampai di titik terendah. Lalu untuk produksi industri hanya sebesar 20% dari kapasitasnya. Sehingga hal yang terjadi adalah ketidakmungkinan bagi Indonesia untuk melakukan ekspor demi memperoleh devisa. Sedangkan untuk impor tidak dapat dilakukan karena negara tidak memiliki devisa yang cukup. Kemudian hutang negara tidak terbayar dan hal ini pun memengaruhi kepercayaan negara lain. Kondisi perekonomian di Indonesia pun semakin kritis dan yang terjadi adalah pergolakan politik hingga berakhir pada turunnya Presiden Sukarno.

Studi Kasus Hiperinflasi Di Negara Lain

Kondisi hiperinflasi tidak hanya pernah terjadi di Indonesia saja, tetapi negara lain pun juga pernah mengalaminya. Bahkan tidak hanya satu ada dua negara saja, tetapi ada beberapa negara. Baik itu negara berkembang maupun negara maju. Misalnya saja negara Cina, Jerman, Yugoslavia, Hongaria, Peru, Yunani, Perancis, dan Nikaragua. Diketahui bahwa hiperinflasi yang dialami oleh beberapa negara tersebut terjadi sebelum tahun 2000-an  atau di tahun milenial. Untuk kondisi hiperinflasi yang sangat besar telah dialami oleh negara Zimbabwe pada tahun 2007. Negara yang saat itu digolongkan sebagai negara yang berpendapatan rendah memiliki nilai tukar sebesar 1,25 terhadap dolar Amerika.

Terjadinya hiperinflasi yang menyerang Zimbabwe disebabkan oleh berbagai faktor. Hal tersebut dimulai dengan adanya kebijakan redistribusi tanah yang telah dilakukan oleh pemerintah. Dari kebijakan itulah kemudian mengalihkan kepemilikan tanah yang semula dimiliki oleh para petani kulit putih atau bangsa Eropa kepada para petani lokal.

Namun, dikarenakan rendahnya pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh para petani lokal, maka lahan pun tidak berproduksi atau tidak menghasilkan. Bahkan lebih parahnya adalah banyak yang tidak terurus lalu ditinggalkan begitu saja. Pada akhirnya produksi pertanian anjlok secara tajam dan membuat persediaan bahan makanan menjadi menurun. Begitu juga dengan harga-harga bahan makanan yang turut mengalami kenaikan secara tajam.

Penyebab lainnya yang membuat Zimbabwe mengalami hiperinflasi adalah terlibatnya Zimbabwe dalam konflik dengan negara Kongo. Saat konflik terjadi itulah, Zimbabwe mengalami krisis ekonomi, yang mana anggaran pemerintah banyak digunakan untuk membiayai konflik yang terjadi. Dari permasalahan-permasalahan yang dialami itulah, Zimbabwe pun mengalami defisit anggaran di periode 1990 hingga 1997 dan semakin berlanjut sampai tahun 2004. Defisit anggaran yang terjadi semakin serius hingga mencapai angka 115%. Akibatnya adalah kelangkaan bahan makanan, berkurangnya pasokan bahan bakar untuk produksi dan konsumsi, serta tidak tersedianya fasilitas kesehatan untuk masyarakat.

Lalu di tahun 2008, hiperinflasi semakin parah menyerang Zimbabwe. Bisa dikatakan ini adalah rekor tertinggi  yang hiperinflasinya mencapai 79 miliar%. Dengan demikian, nilai mata uang lokal sangatlah rendah terhadap dolar Amerika, yang mana Z$ 50 juta hanya setara dengan US$ 1,20. Masa kebangkitan Zimbabwe untuk melepaskan diri dari kondisi hiperinflasi adalah dengan menerapkan kebijakan multi-currency, yakni penggunaan mata uang asing untuk dijadikan sebagai alat pembayaran di dalam menjalankan transaksi  dalam negeri. Kebijakan ini nyatanya mampu memberikan dampak yang positif untuk Zimbabwe. Bahkan tahap demi tahap, perekonomian di Zimbabwe semakin membaik dan di tahun 2012, angka inflasi telah mengalami penurunan. Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi semakin terlihat menuju ke angka yang positif.

Apa Itu Hiperdeflasi?

Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Di mana suatu kondisi yang menunjukkan terjadinya penurunan harga pada suatu barang atau jasa di suatu negara secara terus-menerus di dalam kurun waktu yang relatif singkat. Dari penurunan harga suatu barang atau jasa tersebut berdampak pada sektor yang lainnya, seperti penurunan upah pekerja. Tetapi, di sisi lain deflasi juga bisa menguntungkan untuk sebagian orang karena bisa menghemat pengeluaran yang lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Tetapi dari sisi ekonomi, kondisi deflasi ini tidaklah baik dan bisa memunculkan kekacauan. Sehingga kondisi ekonomi ini pun harus segera diatasi oleh pemerintah agar tidak memunculkan masalah perekonomian yang lebih serius dan mengganggu perekonomian masyarakat. Jika Anda sudah mengetahui dengan jelas mengenai deflasi, maka Anda juga perlu tahu apa itu hiperdeflasi. Di mana kondisi ini adalah harga pada suatu barang maupun jasa yang mengalami penurunan secara berlebihan.

Perbedaan Hiperdeflasi Dengan Deflasi

Hadirnya hiperdeflasi tentu dipicu dari terjadinya kondisi deflasi. Di mana harga barang mengalami penurunan sementara nilai mata uang tetap. Hal ini pun membuat para konsumen merasa untung saat membeli barang yang diinginkannya karena lebih murah. Dalam jangka pendek memang memberikan keuntungan bagi sebagian besar masyarakat.

Tetapi jika deflasi terjadi semakin lama dan berkembang di luar kendali menjadi hiperdeflasi, maka hal inilah yang membahayakan untuk kondisi perekonomian suatu negara. Kondisi ekonomi menjadi tidak stabil. Lalu dari sisi investor dan perekonomian negara justru akan merasa dirugikan. Para investor akan mengalami pendapatan yang menurun drastis, kredit yang mengalami kemacetan, nominal dari pembayaran pajak yang menurun, serta pengangguran pun semakin meningkat.

Faktor Terjadinya Deflasi

Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya deflasi. Berikut adalah beberapa faktor yang perlu Anda ketahui.

1. Masifnya Hasil Produksi Yang Sama

Di tengah persaingan bisnis yang ketat, biasanya tidak sedikit dari perusahaan yang akan saling meningkatkan produk serupa dengan yang dihasilkan oleh perusahaan. Cara ini dilakukan dalam upaya untuk mendapatkan hati para konsumen. Perusahaan pun akan memilih cara dengan menekan harga sampai yang paling rendah untuk bisa menang dalam persaingan tersebut.

2. Menurunnya Permintaan Hasil Produksi

Banyaknya jumlah produk yang dihasilkan oleh produsen tanpa diikuti dengan penghitungan jumlah hasil produksi secara tepat. Produsen bisa melakukan produksi barang yang nantinya akan disesuaikan dengan permintaan konsumen sebagai bagian dari strateginya.

3. Menurunnya Jumlah Uang Yang Beredar

Dari turunnya jumlah uang yang beredar, hal ini bisa menjadi penyebab dari munculnya deflasi. Hal ini karena banyak orang yang berlomba-lomba untuk bisa memperoleh bunga simpanan tinggi yang ditawarkan oleh pihak bank. Masyarakat pun akan menyimpan uangnya di bank agar peredarannya menjadi langka dan berkurang.

4. Meningkatnya Persediaan Barang Yang Ditawarkan

Jumlah permintaan di pasar membuat produksi barang meningkat meskipun terkadang realitanya menunjukkan adanya kondisi yang berbeda. Penghitungan dan orientasi secara tepat akan menjadi bagian yang menyebabkan munculnya deflasi. Lalu produsen pun tidak akan lagi memikirkan jumlah permintaan barang.

Deflasi Di Indonesia

Deflasi yang ada di Indonesia baru saja dialami. Diketahui melalui Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat terjadinya deflasi di bulan September 2020 yang mencapai 0,05%. Deflasi ini terhitung yang ketiga kalinya dan terjadi secara beruntun sepanjang kuartal III 2020, atau dalam periode bulan Juli, Agustus, dan September. Deflasi yang terjadi mengindikasikan adanya daya beli masyarakat Indonesia yang tergolong lemah di masa pandemi Covid-19.

Sedangkan untuk pasokan dinilai cukup karena adanya penurunan harga untuk beberapa komoditas. Diketahui bahwa deflasi ini merupakan implikasi setelah terjadinya pengangguran. Selain itu, deflasi juga pernah dialami Indonesia sebelumnya, yakni di tahun 1999. Deflasi terjadi selama 7 bulan sejak Maret sampai September. Dan diketahui bahwa kondisi deflasi di masa sekarang masih lebih baik daripada di tahun-tahun sebelumnya.

Dengan begitu, baik itu inflasi maupun deflasi sama-sama memiliki dampak yang positif dan negatif masing-masing. Asalkan jika keduanya bisa dikendalikan oleh pemerintah secara tepat. Namun, jika pemerintah tidak bisa mengendalikannya secara baik, maka dampak-dampak negatif yang lebih serius pun akan terjadi di suatu negara. Di mana membuat perekonomian negara menjadi kacau.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore