Apa Itu Bearish?

By 23 Desember 2020Academy, Fundamental

Bagi Anda yang sudah pernah berkecimpung dalam bisnis saham pasti pernah mendengar istilah bearish. Tapi bagi Anda yang baru bergabung dalam pasar saham dan aset, baik itu forex, index, Cryptocurrency, dan yang lainnya pasti sedikit kebingungan akan istilah yang satu ini. Anda yang kebingungan akan istilah yang satu ini, maka ini akan jadi ulasan yang tepat untuk Anda.

Tentang pasar bearish

Sebenarnya apa itu Bearish? Jika diartikan secara sederhana, bearish sendiri adalah sebuah istilah yang digunakan pada saat kondisi pasar sedang mengalami pelemahan, trend turun atau istilah lainnya adalah harga anjlok. Proses pelemahan sendiri, biasanya dipengaruhi oleh perlambatan atau juga penurunan pertumbuhan ekonomi yang ada dalam suatu negara, dari tahun sebelumnya. Mulai dari laba perusahaan yang tumbuh secara negatif, pertumbuhan ekonomi yang melambat, pengangguran bertambah lantaran banyak perusahaan yang merumahkan para pekerjanya dan yang isu lainnya. Adapun kebalikan dari Bearish sendiri adalah Bullish atau penguatan harga.

Bearish atau bullish sendiri adalah istilah yang kerap digunakan trader, dalam menggambarkan kinerja pasar saham yang terjadi secara umum. Dimana umumnya mereka akan mengapresiasikan harga yang ada, dengan harga naik atau yang akrab disebut dengan bullish atau harga turun atau bearish. Dimana sebagai seorang investor, pergerakan arah pasar, akan sangat mempengaruhi portofolio yang ada.

Bearish sendiri digambarkan sebagai seekor beruang (Bear) yang sedang menyerang atau mengharukan cakarnya ke arah bawah. Misalnya saja dalam pasar forex EUR / JPY, dinyatakan bearish, artinya EUR akan melakukan pelemahan atau nilai tukarnya terhadap Yen Jepang akan melemah, yang membuat grafik EUR / JPY bergerak turun. Melihat hal seperti ini, biasanya para investor atau trader, yang bergerak dalam bidang saham / emiten, komoditas atau juga forex, akan melakukan aksi Sell / jual aset, dari hal yang dilakukan sebelumnya, atau juga menutup posisi, dari posisi sebelumnya Buy / beli.

Perilaku pasar & bagaimana menghadapi pasar bearish

Ketika pasar sedang dalam kondisi bearish, artinya sentimen pasar sedang dalam posisi negatif. Mulai dari investor yang memindahkan uangnya dari ekuitas, jadi sekuritas pendapatan tetap. Sambil menunggu sentimen positif atau pergerakan positif dari pasar saham.

Secara mudah, ketika posisi bearish terjadi, maka harga pasar akan menurun. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan investor yang juga ikut turun. Mereka mulai menahan uangnya yang ada di pasar. Secara tidak langsung hal ini akan berimbas pada harga yang mengalami penurunan signifikan, dibanding harga sebelumnya. Jika kondisi seperti ini terjadi pada Anda, sebaiknya jangan panik. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan, agar Anda tidak mengalami kerugian besar, yang menyebabkan aset hilang.

1. Cek fundamental dan teknikal yang ada

Walaupun sentimen berita utama adalah bearish, tetap saja Anda harus melakukan analisis pasar teknikal & fundamental, atau mencari dan menganalisa aneka macam berita yang ada, dan berkaitan dengan pasar saham atau forex yang sedang dijalankan. Selain itu, baca juga pergerakan teknikal yang dilakukan oleh pasar dengan cara melihat grafik indek pergerakan harga yang ada.

Hal-hal seperti ini, tentu saja dilakukan untuk kembali menganalisa apakah pergerakan harga bearish tersebut hanya bersifat sementara atau jangka panjang. Hal seperti ini sendiri perlu dipelajari, untuk menganalisa pergerakan harga pasar, dan strategi trading yang akan dilakukan setelahnya.

Pilih saham defensive, atau harga forex yang bagus dengan fundamental yang bagus serta undervalued

Sebelum Anda, baik sebagai trader atau investor,  membeli saham, atau mata uang tertentu, untuk trading atau ditransaksikan, sebaiknya perhatikan hal berikut ini :

  • Pastikan fundamental atau berita yang ada bagus dengan laba yang bersih, terutama untuk pasar saham. Sedangkan untuk pasar forex, pastikan walaupun bearish namun sentimen pasar tetap positif.
  • Memperoleh pendapatan dan ekuitas yang meningkat, untuk saham. Sedangkan untuk forex, pastikan mata uang yang ada, masih mempunya sentimen positif dari pasar.
  • Serta harga saham yang masih undervalued (PER <5.0 dan BPV <1.0).
  • Mempunyai Margin of safety (MOS), yang masih tinggi, bahkan di atas 50 %.
  • Ketika market mengalami bearish, sebaiknya investor atau trader jangan panik, segera pelajari laporan keuangan pada pasar saham yang dipegang, dan cek berbagai macam berita fundamental yang ada. Pastikan mana saham atau mata uang yang mempunyai nilai positif, walau sedang bearish, dan mana yang mengalami sentimen negatif. Pilih dan analisa secara bijak, agar mampu menilai pasar yang tepat untuk dipilih, dan tidak dipilih.

2. Lakukan diversifikasi portofolio

Ini adalah salah satu saran klasik, untuk Anda para trader atau juga investor, dalam segala macam suasana. Sebaiknya simpan presentasi portofolio Anda, dalam berbagai macam hal, atau bidang, yang sesuai dengan karakter manajemen risiko yang Anda miliki. Anda dapat menyimpannya dalam beberapa alternatif, seperti reksadana pasar uang, obligasi, pasar saham, atau yang lainnya. Tentu saja hal ini dilakukan, untuk menyimpan dan menyelamatkan aset yang dimiliki di beberapa tempat.

3. Batasi portofolio hanya dengan 5 hingga 8 emiten

Umumnya investor atau juga trader, biasa menyimpan uang atau asetnya di banyak saham atau mata uang. Namun ketika kondisi bearish terjadi, maka kondisi seperti ini tidak berlaku. Khusus untuk perdagangan saham, sebaiknya fokus pada 5 hingga 8 emiten saja. Atau dengan kata lain, fokus dengan mengatur portofolio dengan jumlah terbatas. Sebaiknya pastikan portofolio yang akan dipilih dan digunakan kelak, sudah sesuai dengan syarat pada no.1. Anda sebaiknya memperhatikan berapa modal yang dimiliki, dan gunakan modal tersebut dengan baik, dan jangan terlalu memaksakan masuk market, jika dirasa tidak memungkinkan.

4. Jangan melakukan transaksi terlalu banyak

Ketika melakukan transaksi, sebaiknya jangan lakukan full power, atau jangan menggunakan semua uang yang ada pada aset, mulai dari saham, hingga modal trading yang ada. Lakukan evaluasi aset berupa aset yang Anda miliki, berapa set yang akan digunakan, dan berapa aset yang harus disimpan sebagai cadangan. Sisakan, maksimal 30 hingga 40 persen cash on hand, untuk pasar saham, sedangkan untuk forex, sebaiknya lebih besar. Sebagai bentuk antisipasi, jika terjadi penurunan harga yang terus menerus.

Melakukan aksi belanja ketika kondisi market sedang bearish memang bukan tanpa resiko. Harga aset memang cenderung lebih mudah, dibanding harga awal. Namun tetap saja ada resiko dimana harga akan terus mengalami penurunan. Tentunya hal ini akan semakin membuat Anda mengalami kerugian. Sebaiknya pelajari saham atau harga yang ada, jika ingin melakukan transaksi pun sebaiknya pilih yang tergolong aman.

5. Menggunakan money management

Menggunakan money management ketika melakukan transaksi forex atau saham, adalah sebuah keharusan. Fungsinya adalah mengontrol keuangan yang Anda miliki. Mulai dari berapa modal yang dimiliki, berapa modal trading atau investasi yang akan dilakukan, besaran kesanggupan rugi, dan yang lainnya. Dalam istilah saham, Sebaiknya Anda sebagai investor memegang 30 hingga 40% cash, uang cadangan.  Sedangkan untuk forex maka dana cadangan yang sebaiknya digunakan maksimalnya sekitar 80 hingga 90%, dari total modal yang dimiliki. Dana cadangan ini akan benar-benar digunakan, atau dikeluarkan, jika dana yang ditradingkan mengalami masalah atau mengalami kerugian.

Sebaiknya melakukan scaling in, atau masuk secara bertahap, dan jangan memasukkan dana cadangan secara terburu-buru.

6. Pelajari situasi pasar dengan tenang

Hal yang jarang dilakukan oleh para trader dan juga investor ketika kondisi bearish muncul adalah panik, dan khawatir menderita kerugian. Seperti bisnis pada umumnya yang namanya keraguan pasti ada. Tapi seperti yang sebelumnya dibicarakan, dalam money management, seharusnya investor dan juga trader sudah menentukan besaran nilai kerugian yang sanggup dihadapi dan diterima. Jika hal ini sudah disepakati, hanya perlu diingat dan dilaksanakan.

Lalu ketika masuk pasar, pastikan dalam kondisi tenang, dan tidak panik. Karena hal seperti ini mampu mempengaruhi keputusan akhir. Ketika seseorang panik, maka keputusan yang diambil kerap berdasarkan emosi dan bukan hasil analisa. Tentu saja hal ini tidak baik untuk kelangsungan investasi yang ada.

Trader-trader terkenal dengan bearish trade-nya

Walaupun banyak trader atau investor yang mengalami kerugian ketika kondisi bearish tiba. Tapi bukan berarti semua trader atau investor mengalami kerugian. Buktinya masih ada, bahkan banyak trader atau investor yang berhasil mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Hal seperti ini sebagai bukti, bahwa trader atau investor tersebut berhasil memprediksi atau melakukan proyeksi masa depan tentang pergerakan harga secara tepat.

Jesse Livermore

Ada beberapa julukan yang diberikan pada seorang Jesse Livermore, mulai dari bapak bagi para trader di jamannya, legenda pasar saham dan speculator King, serta Great bear of Wall Street. Pemberian julukan tersebut memang bukan tanpa sebab. Salah satunya yang terjadi pada tahun 1907 hingga 1929. Dimana, Jesse Livermore tersebut, memperoleh keuntungan yang sangat besar, ketika kondisi pasar wall street mengalami bearish. Jesse Yang keluar dari rumah, mulai bekerja sebagai seorang broker saham kecil, di kawasan Boston, Amerika Serikat. Disini dirinya belajar secara otodidak,  hingga memperoleh julukan raja spekulasi / Speculator King.

Termasuk trader yang mempunyai perhitungan yang cermat, dalam menentukan timing, serta mampu mengandalkan emosi. Menggunakan teknik analisa formasi pola pergerakan harga / price pattern. Memaksimalkan keuntungan, menggunakan analisis trend serta Pyramiding, dengan kaidah cut loss dan let profit run. Menurut seorang Jesse Livermore, ada 3 hal yang membuat trader rugi, yaitu :

Kurangnya pengetahuan para trader tentang instrumen pasar.

Metode dan strategi yang kurang tegas ketika trading.

Tidak disiplin dalam money management, atau melanggar aturan yang sudah ditetapkan sendiri.

Yang menarik adalah, sampai saat ini ada beberapa aturan yang diterapkan olehnya, dan digunakan oleh para trader, antara lain  :

  • Menentukan resiko menggunakan stop loss, dan close ketika trend harga berbalik arah / reverse.
  • Menggunakan pivot point daily, guna mengetahui arah pergerakan harga.
  • Jangan memasuki pasar ketika harga sedang sideway, atau tidak jelas arah pergerakan harganya.
  • Menunggu kondisi yang baik, baik dari sisi teknikal maupun fundamental, sebelum melakukan posisi buy atau sell.
  • Hindari melakukan averaging down, pada saat posisi sedang merugi.
  • Ketika kondisi pasar sedang bullish, lakukan trade pada saham-saham yang kuat. Ketika pasar sedang bearish, maka trade pada saham-saham yang paling lemah. Sebaiknya hindari saham-saham yang ambiguous atau bersifat ragu-ragu.

Warren Buffet

Warren Buffet adalah salah seorang yang sukses berikutnya dalam dunia investasi, sekaligus pendiri Berkshire Hathaway. Dirinya sukses meraup keuntungan dalam jumlah besar dengan membeli beberapa saham potensial yang sedang dalam kondisi turun. Berikut ini adalah beberapa teori yang dibuat oleh seorang Warren Buffet, yaitu ;

  • Jual semua saham potensial, ketika semua orang sedang euforia ketika harga sedang tinggi. Beli dalam jumlah banyak, ketika semua orang sedang panik menjual / selling. Terutama dalam kasus perusahaan dengan fundamental kuat.
  • Bagi seorang investor, harga adalah sebuah modal yang dikeluarkan untuk memperoleh value atau nilai dari hal yang dibeli. Sedangkan dalam konteks investasi, selalu cari tahu, perusahan seperti apa, yang sahamnya akan anda beli. Cek pada bagian laporan keuangannya.
  • Investasi saham hanya akan jadi tinggi ketika Anda, tidak tahu apa yang sedang dibeli. tapi ketika Anda tahu, maka resiko yang ada, hanyalah masalah toleransi angka.
  • Jika dalam konteks investasi dan juga trading, ketika market sedang bullish, maka semua orang bisa jadi pemenang, dan meraih keuntungan besar. Namun pemenang sejati, hanya dapat mengatasi market bearish, dan jadi pemenang satu-satunya.
  • Fokus pada fundamental perusahaan dahulu, baru tentukan nilai harga terbaik, untuk saham yang dimiliki.

Larry R. Williams

William pernah mengikuti sebuah perlombaan trading, dari yang awalnya hanya sekitar $ 10.00, jadi $ 1.147.000, hanya dalam waktu 1 tahun. Perlombaan tersebut diselenggarakan oleh Robbins Trading company, di tahun 1987. Hingga saat ini belum ada yang menyamai rekor profit yang pernah dibuat oleh Williams tersebut. Sebenarnya Williams sendiri pernah mencapai profit hingga $ 2.000.000, pada akhir September. Tapi dirinya menderita kerugian, hingga $ 750.000 di akhir Oktober. Namun demikian, dirinya tetap memperoleh profit sekitar $ 1.147.000 di akhir tahun.

Williams terkenal dengan 2 teknik indikatornya, yaitu Ultimate Oscillator dan Williams % R. Dimana menurut Williams sendiri, ini adalah bentuk lain dari Indikator stochastics, namun lebih mudah untuk diikuti. Ingin disebut dengan trader contextual, yang dapat mengkombinasikan analisa teknikal dan fundamental. Dimana dirinya berasumsi bahwa sentimen buy di pasaran, akan menutup harganya selalu dekat dengan level harga tertinggi.

Ada beberapa nasihat yang diberikan oleh seorang Williams, untuk para trader, baik trader lari maraton hingga trader perlahan. Selalu sediakan, waktu dan juga dana yang cukup untuk belajar dan berlatih. Adapun biaya untuk belajar, biasanya akan lebih murah, dibanding pengalaman serta pengetahuan yang akan diperoleh kelak. Sedangkan, jika Anda merasa ada yang tidak beres segera lakukan cut loss, dan tetap biarkan profit tetap berjalan, hingga mencapai target.

Pada dasarnya pasar bearish ini akan selalu terjadi setelah pasar bullish. Hal ini adalah sifat yang harus para trader dan investor ketahui, hadapi, dan siasati. Menghadapi pasar bearish, memang bukan sesuatu hal yang menakutkan, mengingat hal ini pasti terjadi. Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana cara mengatasi pasar bearish, dan mencegah terjadinya penurunan aset dan nilai investasi yang dilakukan. Yang mungkin saja berujung pada kerugian besar besaran atau MC (Margin Call).