Rollercoaster Kripto Selama Tiga Tahun Terakhir

By 24 Juli 2019Edukasi
pergerakan kripto

Sistem keuangan global berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mengikuti perkembangan zaman dan berevolusi mengikuti kebutuhan pelanggannya. Berbagai kondisi krisis dan tingginya pergerakan harga kripto memaksa pemerintahan negara untuk memikirkan alternatif agar dapat bertahan dari kondisi tersebut, Venezuela dan Zimbabwe merupakan dua diantaranya yang mencoba keluar dari kekacauan ini.

Baca juga: 5 Hal Yang Perlu Diketahui Mengenai Pajak Cryptocurrency

Banyak orang beralih ke Bitcoin sebagai solusi karena fleksibilitasnya yang dapat digunakan sebagai sistem pembayaran internasional tanpa melibatkan pihak ketiga atau pemerintah. Sekitar tiga tahun yang lalu, berita tentang para penambang dan investor kripto mulai bermunculan terlebih ketika pergerakan harga kripto tumbuh dengan stabil. Para milyuner juga muncul dimana-mana. Bitcoin mudah didapat, mudah diperdagangkan, dan sepertinya pilihan yang baik untuk menghasilkan uang karena minat terhadap koin digital membuat harga terus naik. Dalam waktu kurang dari setahun harga Bitcoin merangkak sampai 20x nilainya hingga 2017 – yang seharusnya menjadi tanda peringatan bagi investor untuk berhati-hati.

Baca juga: Pemerintah Iran Akhirnya Izinkan Penambangan Aset Kripto

Dengan semua hype, penawaran Initial Coin Offering (ICO dengan cryptocurrency) mulai bermunculan di mana-mana. Perusahaan Blockchain membuat token untuk bisnis mereka, kemudian menaruhnya di pasar agar investor membeli dengan harapan mendapatkan pengembalian besar atas investasi mereka. Namun, di sisi lain, pasar menjadi penuh dengan scammer yang ingin mengambil kesempatan untuk mencuri dana. Orang-orang membuang uang di proyek yang paling tipis, tidak melakukan kroscek secara tuntas dan dengan sedikit pengetahuan tentang model perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir banyak ICO, beberapa di antaranya mengumpulkan modal jutaan namun proyeknya gagal, lalu mengambil uang investor tanpa berniat mengembalikannya.

Baca juga: Industri Barang Mewah Lirik Crypto

Hype menyebabkan bubble dengan cepat muncul, dari $ 20.000 Bitcoin turun ke posisi terendah $ 3.000 pada tahun 2018 – menggebrak bearish market, dan menimbulkan banyak spekulasi. Kondisi bearish ini membuat banyak pendatang baru mundur, beberapa meninggalkan pasar dan beberapa lainnya berpegang pada aset lain dengan harapan pasar dapat kembali membaik. Dengan semakin sedikit investor, perusahaan-perusahaan besar dan regulator dapat masuk dan fokus pada apa yang mereka anggap paling penting tentang mata uang kripto. IBM, Microsoft, Amazon, dan lainnya mulai membangun divisi blockchain. Bank, yang pernah menertawakan ekosistem ini, sekarang mempekerjakan teknisi blockchain. Regulator sekarang melihat bahwa blockchain, dan token digital memiliki banyak nilai dan dapat dipisahkan dari penipuan dan peretasan yang sering terlihat di pasar ICO. Regulator bahkan ingin bekerja dengan teknologi dan bisnis serta ingin memanfaatkannya untuk sistem mereka.

Baca juga: Badan Perpajakan Singapura Usul Bebaskan Crypto Dari GST

Setelah mengalami pukulan besar hingga tahun 2018, beberapa cryptocurrency mulai mendapatkan momentum di awal tahun 2019. Pemberitaan positif tentang pasar cryptocurrency mulai terlihat dimana-mana. Media mulai melabeli kuartal pertama 2019 sebagai ‘Oase Cryptocurrency’ yang menggairahkan investor dan juga bisnis. Orang-orang telah meramalkan bahwa institusional buy-in akan mendorong pasar, dan sepertinya 2019 menjadi tahun untuk eksplorasi perusahaan cryptocurrency. Kabar baik lainnya adalah proyek cryptocurrency dari Facebook, Libra, yang cukup diperhitungkan oleh pasar.

Meski demikian, perlu disadari bahwa pasar Bitcoin cukup volatile, harga dapat naik turun dengan cepat bergantung dengan kondisi pasar, sentimen publik dan pemberitaan media secara global. Tentu Kita semua berharap pukulan besar di tahun lalu tidak berulang kembali di pasar aset ini. Semoga!

Baca juga: