fidusia adalah

Fidusia Adalah: Pengertian, Dasar Hukum, Contoh & Peraturan

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tahukah OctoMate apa itu fidusia? Singkatnya, jaminan fidusia adalah istilah yang akan sering Anda dengar apabila sedang berada dalam proses peminjaman modal pada suatu lembaga keuangan nasional.

Undang-undang fidusia juga kerap diberlakukan pada jenis transaksi lain seperti kredit kendaraan, investasi, maupun ketika mengajukan KPR.

Simak artikel berikut untuk memahami pengertian fidusia, dasar hukum, serta perbedaannya dengan sistem gadai.

Apa itu Fidusia?

Wajar rasanya jika OctoMate baru mendengar istilah fidusia, terutama jika Anda belum lama tertarik menggunakan sistem pinjam-meminjam modal di instansi tertentu.

Jaminan fidusia adalah sebuah istilah bahasa latin fiduciarus yang artinya kepercayaan.

Dalam dunia peminjaman modal, jaminan fidusia adalah proses pengalihan hak kepemilikan antara dua belah pihak dan biasanya berupa benda.

Secara umum, pengalihan hak milik tersebut tidak merubah status penguasaan yang pada dasarnya merupakan kuasa penuh pemilik utama.

Otoritas Jasa Keuangan juga turut memberikan penjelasan tentang pengertian fidusia serta batasan-batasannya.

Menurut OJK, jaminan fidusia adalah proses jaminan kredit dengan mengikat dan membatasi barang yang semulanya bergerak bebas.

Agar tak keliru, rangkaian batasan ini telah diatur pada UU fidusia yang menegaskan bahwa penguasaan atas dasar barang yang bergerak merupakan kuasa penuh debitur meski jaminan kepemilikannya tetap dipercayakan pada kreditur.

Baca juga: Settlement Adalah: Pengertian, Fungsi, Contoh, dan Cara Catat

Dasar Hukum Fidusia

Setelah mengetahui pengertian fidusia, Anda juga perlu memahami bahwa keberadaan dasar hukum jaminan fidusia adalah krusial dan tak dapat diganggu gugat, serta dipercaya mempermudah segala proses di antara kedua pihak.

Dasar hukum mengenai praktik pengalihan kepemilikan ini telah diatur pada UU fidusia nomor 42 tahun 1999 yang menegaskan bahwa jaminan fidusia adalah hak atas rangkaian benda berwujud maupun tidak, serta benda tidak bergerak seperti bangunan yang hak tanggungannya bersifat mustahil untuk dibebankan.

Selain itu, undang-undang fidusia nomor 4 tahun 1996 juga turut mengatur bagaimana hak tanggungan sebaiknya diberlakukan.

Menurut UU fidusia tersebut, seluruh hak tanggungan merupakan kuasa penuh pemberi fidusia yang dimaksudkan sebagai jaminan pelunasan transaksi terhadap para kreditur.

Baca juga: Equity adalah: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Cara Menghitung

Perbedaan Gadai dan Fidusia

Ketika mencari tahu apa itu fidusia, wajar saja jika OctoMate kerap dibingungkan dengan istilah lain yaitu gadai.

Agar tak berujung pada praktik yang salah, simak perbedaan gadai dan fidusia berikut dengan seksama.

Proses pendaftaran merupakan salah satu perbedaan gadai dan fidusia yang paling menonjol.

Pasalnya, jaminan fidusia adalah praktik yang harus diiringi dengan akta notaris serta melalui proses pendaftaran resmi ke kantor tertentu. 

Lain halnya dengan fidusia, gadai cenderung tak membutuhkan proses pendaftaran.

Tak hanya itu, gadai juga memberikan kendali penuh pada pemegang gadai. Sedangkan, fidusia adalah praktik yang mengutamakan kepemilikan utama terhadap kreditur.

Hal terakhir yang membedakan gadai dan jaminan fidusia adalah proses eksekusinya.

Praktek fidusia umumnya hanya bisa dilakukan setelah debitur mencatat wanprestasi di perjanjian pokok terlebih dahulu, sebelum diizinkan untuk menjual objek jaminan secara utuh.

Sedangkan praktik gadai tidak memperbolehkan adanya pemakaian objek pinjaman pada skema tertentu.

Nah, dengan begini Anda dapat menyimpulkan bahwa perbedaan gadai dan fidusia adalah sebuah poin yang mengizinkan keduanya menawarkan manfaat berbeda sehingga kreditur perlu memikirkannya matang-matang sebelum mengambil keputusan. 

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Investasi Terbaik, Wajib Tahu!

Contoh Jaminan Fidusia

Jika menilik konsepnya dengan teliti, sebenarnya banyak contoh jaminan fidusia yang mungkin kerap Anda temui di sekitar, salah satunya dalam proses pembelian rumah menggunakan sistem KPR (Kredit Kepemilikan Rumah).

Apabila seseorang membeli rumah dengan KPR, maka ia akan diizinkan menempati rumah tersebut secara sah layaknya kepemilikan pribadi meskipun hak milik sebenarnya masih berada di bawah kreditur dalam jangka waktu tertentu sesuai perjanjian di awal. 

Dengan begini, jaminan fidusia adalah hal yang cukup krusial karena dianggap sebagai pelindung, pembatas, serta bukti konkret jikalau angsuran tiba-tiba berhenti di tengah jalan tanpa kejelasan dari kreditur terkait.

Baca juga: Negosiasi adalah: Tujuan, Tahapan, Ciri, dan Contohnya

Biaya Fidusia

Secara umum, sifat biaya yang ditangguhkan pada fidusia adalah relatif. Artinya, semua biaya akan bergantung pada nilai jaminan objek kredit itu sendiri.

Penentuan biaya-biaya ini juga telah diatur dalam UU fidusia dan Peraturan Perundang-Undangan nomor 28 tahun 2019.

Dalam undang-undang tersebut telah diatur bahwa kenaikan biaya dalam praktik fidusia berlaku bagi sebagian besar nilai penjaminan, meskipun pada praktik secara nyata ada beberapa di antaranya yang menetap tanpa perubahan signifikan.

Baca juga: Biaya Investasi: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Peraturan Fidusia

Peraturan Undang-Undang fidusia adalah konkret dan tak dapat diubah sedikitpun, terutama jika berbicara mengenai peraturan pembebanan benda.

Menurut aturan yang berlaku, pembebanan objek kredit dalam cakupan fidusia sepatutnya ditulis dalam bahasa Indonesia dan disertai akta notaris.

Kehadiran akta ini bertujuan sebagai lampiran identitas yang mencakup informasi penerima dan pemberi fidusia itu sendiri.

Selain itu, akta notaris juga diharapkan memuat informasi mengenai perjanjian pokok dalam jaminan fidusia, keterangan objek fidusia serta nilai jaminannya secara rinci.

Baca juga: Mengenal Manajemen Keuangan, Fungsi, Tujuan, serta Contohnya

Tugas Pemegang Fidusia

Agar prosesnya berjalan tanpa hambatan, beberapa tugas yang wajib diemban oleh pemegang fidusia adalah:

  • Memastikan sepanjang proses berlangsung tidak ada konflik antara kedua belah pihak, baik pemilik aset maupun pemegang fidusia.
  • Melaksanakan tanggung jawab penuh apabila salah satu pihak terbukti menerima kewajiban fidusia karena menggantikan pihak lain.
  • Wajib hukumnya bagi pemegang fidusia untuk melaporkan kondisi asli aset dan menghindari keuntungan tersembunyi dari proses penjualan aset.
  • Akta fidusia takkan kehilangan aset penting di dalamnya meskipun pemilik aset telah meninggal dunia sekalipun.

Itulah ulasan lengkap mengenai apa itu fidusia, undang-undang terkait, serta beberapa contoh jaminannya yang perlu Anda ketahui.

Mengingat bahwa fidusia adalah istilah umum dalam dunia pinjam-meminjam, ada baiknya OctoMate mempelajari konsep fidusia ini secara menyeluruh agar eksekusinya berjalan tanpa hambatan.

Baca juga: Apa Itu Pailit? Syarat, Contoh, dan Bedanya dengan Bangkrut

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin