arbitrase adalah

Arbitrase: Pengertian, Jenis, Prosedur dan Contohnya

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa perdata yang dilakukan di luar peradilan atas dasar kesepakatan para pihaknya sebagaimana tertuang dalam perjanjian.

Nantinya, akan ada pihak ketiga atau penengah sebagai orang yang memandu kedua belah pihak ketika menyelesaikan sengketanya.

Mengingat arbitrase adalah metode penyelesaian bisnis yang cukup populer dan menjadi pilihan dalam kontrak-kontrak dagang maupun investasi, maka Bitocto akan membahasnya secara lengkap mulai dari pengertian, prosedur, contoh arbitrase dan perbedaannya dengan mediasi. Yuk simak!

Pengertian Arbitrase

Arti arbitrase adalah alternatif penyelesaian sengketa di luar peradilan umum yang dibantu oleh pihak ketiga sebagai penengah bersifat netral.

Umumnya, pelaksanaan mekanisme ini didasarkan atas kesepakatan yang tertuang dalam perjanjian para pihak sebagai jalan keluar apabila kontrak tersebut menimbulkan konflik di kemudian hari.

Pihak ketiga yang membantu penyelesaian sengketa dalam arbitrase adalah arbiter, yakni seseorang yang dipilih oleh pihak berselisih dan namanya telah tercatat di daftar arbiter dalam ketetapan menteri.

Putusannya nanti akan bersifat final sekaligus mengikat para pihak, sehingga tidak diperlukan mekanisme lanjutan ke pengadilan.

Baca juga: Negosiasi adalah: Pengertian, Tujuan, Tahapan, Jenis, Contoh

Dasar Hukum Arbitrase

Payung hukum pelaksanaan arbitrase adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Selain itu, ada juga Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 yang menunjuk mekanisme penyelesaian sengketa ini sebagai jalan keluar apabila terjadi perselisihan di bidang industrial.

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI), arbitrase merupakan pilihan penyelesaian sengketa apabila terjadi perselisihan kepentingan antar serikat buruh atau suatu serikat pekerja dengan perusahaan saja.

Baik UU Arbitrase maupun UU PPHI, keduanya mensyaratkan kesepakatan secara tertulis bahwa para pihak akan menyelesaikan perselisihan melalui jalur ini.

Dengan demikian, nantinya pengadilan tidak punya kewenangan lagi untuk menanganinya.

Baca juga: Simak 7 Contoh Surat Kuasa, Unsur, Struktur & Cara Buatnya!

Jenis-Jenis Arbitrase

Dalam praktiknya, penyelesaian sengketa satu ini dilakukan dengan berbagai macam cara.

Nah, jenis-jenis arbitrase adalah sebagai berikut.

1. Quality

Salah satu jenis arbitrase adalah quality arbitration, yakni penyelesaian sengketa menyangkut masalah kontraktual.

Jadi, butuh arbitrator berkualifikasi tinggi karena mereka harus mampu menafsirkan makna sebenarnya dari suatu kontrak yang dipersengketakan.

2. Technical

Technical arbitration adalah penyelesaian arbitrase menyangkut pelaksanaan kontrak, permasalahan ketika menyusun dokumen, serta ketentuan-ketentuan perjanjian.

3. Mixed

Berikutnya, contoh arbitrase lainnya adalah mixed arbitration, yakni mekanisme penyelesaian sengketa yang menangani permasalahan baik terkait faktual maupun hukum dalam perjanjiannya.

Baca juga: Fidusia Adalah: Pengertian, Dasar Hukum, Contoh & Peraturan

Prosedur Arbitrase

Prosedur pelaksanaan arbitrase adalah sebagai berikut.

1. Pendaftaran

Tahap pertama prosedur arbitrase adalah pihak-pihak yang bersengketa mendaftarkan permohonan kepada Sekretariat Lembaga Arbitrase yang telah ditunjuk dalam kontrak.

2. Permohonan

Pengajuan permohonan arbitrase memuat beberapa hal berikut ini.

  • Nama serta alamat para pihak yang bersengketa
  • Perjanjian arbitrase para pihak
  • Fakta-fakta beserta dasar hukum mengenai hal-hal yang disengketakan
  • Rincian masalah dan kronologi
  • Tuntutan serta nilai tuntutan

3. Dokumen

Dokumen yang diperlukan dalam prosedur arbitrase adalah salinan otentik kontrak kedua pihak serta dokumen-dokumen yang relevan dengan sengketa tersebut.

4. Penunjukan Arbiter

Setelah mendaftar, maka akan dilakukan proses penunjukkan arbiter sebagaimana berikut ini.

  • Pemohon menunjuk salah satu arbiter paling lambat 30 hari sejak pendaftaran diajukan
  • Jika pemohon tidak menunjuknya, maka penunjukkan akan diserahkan pada lembaga arbitrase yang mereka pilih
  • Ketua Lembaga Arbitrase terpilih dapat meminta perpanjangan waktu dengan alasan-alasan yang sah selama maksimal 14 hari

5. Biaya

Setelah mengajukan permohonan, siapkan biaya pendaftaran sekitar Rp2 juta disusul tarif administratif lain yang besarnya tergantung pada perkara.

Baca juga: Biaya Investasi: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Perbedaan Mediasi dan Arbitrase

Meskipun sering dianggap sama, kedua alternatif penyelesaian sengketa ini berbeda dalam beberapa hal.

Nah, perbedaan mediasi dan arbitrase adalah sebagai berikut.

  • Putusan mediasi tidak mengikat kedua belah pihak, berbeda dengan arbitrase yang putusannya final and binding.
  • Pihak ketiga pada mediasi merupakan penengah dan fasilitator. Mereka tidak turut serta dalam memberikan putusan. Sedangkan pihak penengah di arbitrase merupakan pemberi putusan atas sengketa tersebut.
  • Putusan dari mediasi sifatnya win-win solution sedangkan sifat putusan arbitrase adalah win-lose judgement.

Baca juga: Apa itu Deposit? Begini Penjelasannya dalam Kripto

Kelebihan Arbitrase

Kelebihan menyelesaikan perkara melalui jalur arbitrase adalah:

  • Prosedurnya tidak berbelit-belit dan dapat menghasilkan keputusan dalam waktu singkat.
  • Pembuktiannya lebih fleksibel dan kerahasiaan terjamin.
  • Pihak-pihak yang bersengketa dapat memilih hukum mana yang ingin mereka berlakukan selama prosesnya.
  • Putusannya bersifat final and binding sehingga tidak perlu ada banding atau kasasi.
  • Prosedurnya lebih mudah untuk diikuti oleh kedua belah pihak.
  • Menutup adanya forum shopping (penyelundupan hukum maupun pemilihan hukum dengan itikad buruk untuk mengelabui fakta sebenarnya).
  • Putusannya dapat langsung dieksekusi pengadilan tanpa adanya review berkepanjangan.
  • Lebih kompromistis dan bisa diterima kedua belah pihak.

Kelemahan Arbitrase

Selain kelebihan di atas, cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase juga memiliki kekurangan. Adapun kekurangan atau kelemahan arbitrase adalah:

  • Biayanya mahal sehingga lebih cocok diterapkan untuk kontrak-kontrak perdagangan yang nilainya besar.
  • Dalam praktiknya, putusan arbitrase tidak selalu mengikat karena tidak ada jaminan hukum internasional yang akan menjamin pelaksanaannya apabila dilakukan di lintas yurisdiksi (tergantung bagaimana masing-masing negara mengatur pelaksanaan putusan asing).

Baca juga: Hedging adalah: Pengertian, Tujuan, Cara Kerja hingga Contoh

Contoh Kasus Arbitrase

Contoh kasus arbitrase adalah pada sengketa antara Cemex, perusahaan semen asal Singapura yang membeli 25.5% saham PT. Semen Gresik yang merupakan BUMN.

Keduanya telah membuat perjanjian yang memberikan hak pada Cemex agar bisa menguasai 51% bagian PT. Semen Gresik.

Namun, DPRD dan pemerintah Indonesia justru menolak hal ini.

Sengketa tersebut diselesaikan secara arbitrase dan pihak Indonesia wajib membayar denda sebesar USD 337 juta.

Nah, itu tadi penjelasan Bitocto mengenai pengertian, dasar hukum, jenis-jenis, dan contoh arbitrase.

Apakah OctoMate tertarik menggunakan alternatif penyelesaian sengketa ini dalam kontrak-kontrak bisnis? Semoga artikel ini dapat menjadi bahan pertimbangan Anda, ya.

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Investasi Terbaik, Wajib Tahu!

Share:
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin